Dalil Isbal Harus Ditinjau Asbabul Wurud-nya?

Assalamualaikum..
Ustadz ada teman yang bertanya tentang dalil-dalil isbal. Yang dia tanyakan seperti berikut :
“Dapatkah kita memahami dalil secara tekstual belaka? Bukankah hadits-hadits muncul lantaran ada konteksnya? Terus, apa sih konteks (asbabul wurud) hadits-hadits tersebut?”
Mohon jawabannya. Jazakallahu khoiron

Ustadz Kholid menjawab :
Tidak semua hadits hukumnya dilihat kepada sebabnya, sebab yang penting adalah lafadznya dan bukan sebabnya, demikian keterangan para ulama ahli tafsir dan ushul. Sehingga hukum tidak harus dilihat sebab wurudnya hadits. Hadits-hadits isbal cukup banyak dan jelas, bahkan nabi pernah memarahi Abdullah bin Umar yang mengenakan pakaian panjang hingga bila berjalan terdengar suara gerakan baju tersebut. Lihatlah pernyataan Ibnu Umar:

دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيَّ إِزَارٌ يَتَقَعْقَعُ فَقَالَ مَنْ هَذَا قُلْتُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ قَالَ إِنْ كُنْتَ عَبْدَ اللَّهِ فَارْفَعْ إِزَارَكَ فَرَفَعْتُ إِزَارِي إِلَى نِصْفِ السَّاقَيْنِ فَلَمْ تَزَلْ إِزْرَتَهُ حَتَّى مَاتَ

Artinya: “Aku menemui Rasululloh dalam keadaan mengenaikan sarung yang menggeser tanah. Maka beliau bertanya: ‘Siapakah ini?’. Aku menjawab: ‘Abdulah bin Umar’. Beliau berkata: ‘Apabila engkau adalah Abdullah bin Umar maka angkatlah sarungmu!’. Maka aku pendekkan hingga setengah betis. Sarungnya Ibnu Umar terus separuh betis hingga beliau wafat” [HR Ahmad]

Inilah pakaian seorang muslim sebagaimana disampaikan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dalam sabda beliau :

إِزْرَةُ الْمُسْلِمِ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ وَلَا حَرَجَ أَوْ لَا جُنَاحَ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْكَعْبَيْنِ مَا كَانَ أَسْفَلَ مِنْ الْكَعْبَيْنِ فَهُوَ فِي النَّارِ مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا لَمْ يَنْظُرْ اللَّهُ إِلَيْهِ

Artinya: “Pakaian muslim hingga separuh betis dan tdak mengapa bila diantara itu dengan kedua mata kakinya. Sedangkan yang dibawah mata kaki maka itu di neraka. Siapa yang memanjangkan pakaiannya (dibawah mata kaki) secara sombong maka Allah tidak melihat kepadanya.” [HR Abu Daud]

Dengan demikian jelaslah bila kita seorang muslim maka pakaian kita haruslah seperti pakaian seorang muslim.
Wabillahitaufiq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dalil Isbal Harus Ditinjau Asbabul Wurud-nya?

Assalamualaikum..
Ustadz ada teman yang bertanya tentang dalil-dalil isbal. Yang dia tanyakan seperti berikut :
“Dapatkah kita memahami dalil secara tekstual belaka? Bukankah hadits-hadits muncul lantaran ada konteksnya? Terus, apa sih konteks (asbabul wurud) hadits-hadits tersebut?”
Mohon jawabannya. Jazakallahu khoiron

Ustadz Kholid menjawab :
Tidak semua hadits hukumnya dilihat kepada sebabnya, sebab yang penting adalah lafadznya dan bukan sebabnya, demikian keterangan para ulama ahli tafsir dan ushul. Sehingga hukum tidak harus dilihat sebab wurudnya hadits. Hadits-hadits isbal cukup banyak dan jelas, bahkan nabi pernah memarahi Abdullah bin Umar yang mengenakan pakaian panjang hingga bila berjalan terdengar suara gerakan baju tersebut. Lihatlah pernyataan Ibnu Umar:

دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيَّ إِزَارٌ يَتَقَعْقَعُ فَقَالَ مَنْ هَذَا قُلْتُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ قَالَ إِنْ كُنْتَ عَبْدَ اللَّهِ فَارْفَعْ إِزَارَكَ فَرَفَعْتُ إِزَارِي إِلَى نِصْفِ السَّاقَيْنِ فَلَمْ تَزَلْ إِزْرَتَهُ حَتَّى مَاتَ

Artinya: “Aku menemui Rasululloh dalam keadaan mengenaikan sarung yang menggeser tanah. Maka beliau bertanya: ‘Siapakah ini?’. Aku menjawab: ‘Abdulah bin Umar’. Beliau berkata: ‘Apabila engkau adalah Abdullah bin Umar maka angkatlah sarungmu!’. Maka aku pendekkan hingga setengah betis. Sarungnya Ibnu Umar terus separuh betis hingga beliau wafat” [HR Ahmad]

Inilah pakaian seorang muslim sebagaimana disampaikan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dalam sabda beliau :

إِزْرَةُ الْمُسْلِمِ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ وَلَا حَرَجَ أَوْ لَا جُنَاحَ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْكَعْبَيْنِ مَا كَانَ أَسْفَلَ مِنْ الْكَعْبَيْنِ فَهُوَ فِي النَّارِ مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا لَمْ يَنْظُرْ اللَّهُ إِلَيْهِ

Artinya: “Pakaian muslim hingga separuh betis dan tdak mengapa bila diantara itu dengan kedua mata kakinya. Sedangkan yang dibawah mata kaki maka itu di neraka. Siapa yang memanjangkan pakaiannya (dibawah mata kaki) secara sombong maka Allah tidak melihat kepadanya.” [HR Abu Daud]

Dengan demikian jelaslah bila kita seorang muslim maka pakaian kita haruslah seperti pakaian seorang muslim.
Wabillahitaufiq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *