Kiamat Memang Makin Dekat

image

(www.suaramerdeka.com) BUDAYAWAN Danarto bikin kaget banyak orang. Setelah memperoleh Achmad Bakrie Award 2009 berhadiah Rp 150 juta, ia segera
memborong buku Kiamat 2012 karya Lawrence E dan membagikan kepada teman-teman terdekat. Seakan-akan ingin segera menghabiskan duit itu, ia mentraktir siapa pun yang ingin ditraktir. ”Hidup kita tinggal sebentar. Duit tak akan berguna saat kiamat terjadi,” kata peraih South East Asia (SEA) Write Award 1988 itu, dalam nada serius. Mengapa ia begitu percaya kiamat akan terjadi pada 2012? Apa makna
penghargaan-penghargaan kesusastraan bagi dirinya?

Berikut perbincangan dengan dia di Jakarta, belum lama ini.

Mengapa Anda begitu percaya kiamat bakal terjadi pada 2012?
Ini perkara ilmiah yang datang dari bangsa Ma­ya. Maya, kita tahu, merupakan salah satu misteri besar di muka bumi. Banyak cendekia menyebut orang-orang Maya berasal dari angkasa luar. Ke­cerdasannya melampaui kebanyakan dari pendu­duk bumi yang lain dan karena itu mereka juga me­lam­paui peradaban. Suku Maya itu tidak seperti kita. Kita itu masih dibimbing malaikat, masih di­bim­bing para nabi, masih dibimbing Kitab Suci. Me­reka tak dibimbing hal-hal yang dianggap konservatif itu.
Kitab Suci bangsa Maya berupa kalender. Mereka memiliki 20 kalender, yang 15 telah dibuka, sedangkan sisanya masih rahasia. Dan salah satu rahasia yang kini diintip siapa pun adalah tentang kiamat yang terjadi pada 2012.
Apakah para ilmuwan telah meneliti kebenaran prediksi yang menggelisahkan banyak orang ini?
Pada 1960 NASA meneliti hal itu. Pada 1975 para peneliti Indonesia juga menyelidiki masalah kiamat 2012. Hasilnya, kita tahu, sejak 1940, matahari memang dalam kondisi sakit. Akibatnya pada 2003 muncul Badai Katrina di New Orleans. Adapun pada 21 Desember 2012 itu akan terjadi ledakan dahsyat di permukaan matahari. Ledakan itu setara dengan 66 juta kali ledakan bom atom di Hiroshima. Pada saat sama akan menghambur gas superpanas dan partikel-partikel dengan kecepatan 400 km/detik. Dengan kata lain ”kiamat” itu akan sampai di bumi empat hari sejak ledakan itu terjadi. Jangankan 66 juta kali, sepuluh juta kali saja luar biasa. Bayangan saya bumi akan jadi arang. Tak akan ada kehidupan saat itu. Semua makhluk lenyap seketika. Ini jelas kabar yang mengagetkan dan menyedihkan.

Nah, karena semua kabar itu ditulis secara me­yakinkan oleh para ahli, saya memang mem­per­cayai. Dan karena percaya, saya memohon ke­pada Allah agar tidak ikut mengalami kiamat yang me­mang makin dekat saja itu. Saya berharap mati lebih dulu.

Anda yakin akan mati lebih dulu?

Secara instingtif saya yakin akan mati lebih dulu dan tidak mengalami kiamat itu. Yang saya tahu penyair Taufiq Ismail juga percaya kiamat bakal terjadi pada 2012. Dia juga ingin mati lebih dulu. Tentu tak semua percaya. Separo teman percaya. Separo teman tak percaya sama sekali. Saya heran mengapa ada teman yang tidak percaya. Ini benar-benar ilmiah. Tak ada hubungan dengan kabar dari Alquran atau nubuat Nabi.

Karena Anda ingin mati lebih dulu sebelum kiamat terjadi, apa yang Anda persiapkan menjemput sang maut?
Saya mempersiapkan kepasrahan yang sepasrah-pasrahnya. Saya percaya bakal mati pada saat yang tepat karena sejak sebelum dilahirkan saya sudah mengantongi takdir.

Tapi kan dari sekarang 2012 bukan waktu yang lama. Masa Anda menyongsong maut dengan cara yang dingin dan tampak santai?

Ya, memang makin dekat. Karena itu, kita sesungguhnya menjadi makhluk terakhir di muka bumi.

Anda tidak ngeri menghadapi hal ini?

Saya ngeri…saya takut…karena semua yang ada di muka bumi akan lenyap dalam sekejap. Dan jika kita cermat, maka sebenarnya tanda-tanda kiamat itu sudah muncul di berbagai belahan bumi. Di Su­ma­tera muncul gunung berapi 4600 km dari dasar lautan dengan diameter 50 km. Kabar yang me­na­kutkan ini memang kemudian dibantah oleh Badan Me­teorologi dan Geofisika (BMG), tetapi kian di­bantah, orang kian percaya telah muncul fenomena alam yang tak lazim di sekitar mereka. Seorang te­man di Swiss juga mengalami hal serupa. Cuaca beru­bah panas mendadak (36 derajat Celcius) dan men­dadak pula jadi dingin (15 derajat Celcius). Tidak perlu jauh-jauh, di Jakarta suatu hari hujan de­ras, tetapi di dalam rumah panas luar biasa. Ketika kepada Seno Gumira Ajidarma saya bilang, ”Wah ini tanda-tanda kiamat!”, Seno sama sekali tidak percaya. Tentu saya tak mamaksa siapa pun untuk percaya.

Apakah ada tanda-tanda berasal dari Alquran yang mendukung prediksi bangsa Maya ini?

Di Alquran Surat 33 Ayat 63 termaktub, ”Siapa tahu kiamat sudah dekat?”. Tapi segala yang saya katakan tak berkait dengan Alquran.

Jadi Anda percaya kiamat kian dekat hanya karena membaca buku Kiamat 2012?

Saya percaya setelah membaca buku itu. Dulu saya percaya dan terkenang hanya pada Alquran yang menyatakan, ”Siapa tahu kiamat sudah dekat? tapi tak mendapatkan alasan penjelas. Kini saya mendapatkan gambaran kiamat yang sejelas-jelasnya. Bahkan kini ada film Knowing yang menggambarkan ledakan yang dahsyat dan akan muncul film bertajuk 2012 pada 13 November.

Karena menganggap tinggal punya sedikit waktu, dalam waktu yang tak banyak itu, apa yang akan Anda lakukan?
Saya akan menyelesaikan novel saya yang tak rampung-rampung. Mungkin saya akan me­ngaitkan novel ini dengan kiamat. Saya juga ingin mengadakan pameran seni rupa bertema kiamat. Namun, karena saya orang tua yang digerogoti asma, saya sangat berharap akan ada orang yang mewujudkan ide saya. Saya berharap Goenawan Mohamad mau memberi Kata Pengantar.

Jika itu terlaksana, nulis novel tentang kiamat juga selesai…, apakah Anda yakin tindakan Anda berpengaruh pada orang lain?

Setelah saya ngomong tentang kiamat di Majalah Tempo buku Kiamat 2012 laris manis. Ini menunjukkan sebagian besar orang percaya pada omongan saya atau paling tidak penasaran terhadap segala yang saya katakan.

Anda tak khawatir dianggap sebagai teroris yang menyebarkan berita menakutkan?

Saya justru merasa bersalah jika tidak memberi tahu. Karena itu saya memborong buku Kiamat 2012 ke berbagai pulau di Indonesia. Bagaimana kalau kita mulai menulis cerpen-cerpen tentang kiamat? Tapi terus terang saya ragu apakah Goenawan Mohamad percaya pada omongan saya…

Anda juga tidak khawatir dianggap sebagai sosok frustrasi karena dihajar asma sehingga seenak sendiri ngomong tentang kiamat?

Ha ha ha…saya tentu tak ingin mengajak orang takut berbarengan. Biarlah saya ketakutan sendiri…Biarlah saya khawatir sendiri…Saya hanya ingin orang lain mengerti betapa saya khawatir dan takut menghadapi kiamat yang kian dekat ini.

Baiklah, mari beralih pada penghargaan yang baru saja Anda terima, Achmad Bakrie Award 2009. Apa makna penghargaan itu bagi Anda?

Saya bersyukur kesusastraan dihargai tinggi. Hanya, sayang penghargaan ini tidak datang dari pemerintah. Pemerintah tampaknya masih harus berpikir berkali-kali untuk memberi penghargaan karena dianggap mustahil memberikan jalan keluar bagi problem-problem bangsa. Padahal, kita tahu, para sastrawan sepakat betapa lewat kesusastraan kebenaran bisa diutarakan. Kesusastraan juga bisa digunakan sebagai perintis kemajuan bangsa. Yang menarik, Goenawan Mohamad, misalnya, senantiasa menggunakan kesenian untuk mengutarakan kebenaran. Ia melihat kebenaran dalam kesenian untuk mengatasi masalah-masalah sosial yang berkecamuk di dalam masyarakat meskipun ia tak percaya kesenian bisa meletuskan sebuah peristiwa sosial.

Anda diminta menolak hadiah itu karena yang memberi dianggap bertanggung jawab terhadap bencana Lumpur Lapindo. Apa reaksi Anda?

Saya menduga penanganan musibah Lumpur Lapindo sudah selesai. Ternyata masih berlarut-larut. Tentu saya prihatin terhadap hal ini. Namun, saya –juga mungkin Tardji, Putu, dan Rendra– tidak mungkin menolak hadiah ini karena pertama, saya beranggapan manajemen penghargaan lebih dulu ada ketimbang musibah. Kedua, keluarga Bakrie tidak mangkir membayar ganti rugi.

Apakah saya tidak punya hak untuk merasakan sedikit dari penghargaan itu? Seorang bandit yang merampok bank pun jika karya-karyanya bagus, bisa mendapatkan penghargaan. Jadi harus dibe­dakan antara karya dan perbuatan seseorang yang merugikan masyarakat. Tapi sudahlah, saya toh membagi-bagikan hadiah itu kepada teman-teman sebelum kiamat datang…mengapa harus kita perdebatkan terus-menerus…Saya toh tidak me­makan sendiri hadiah itu…Tak ada gunanya segala duit dan kekayaan saat kiamat datang…(35)

Profil:

Danarto, Sragen, 27 Juni 1940. Pendidikan: SMA Sastra di Solo, ASRI Yogyakarta (1958-1961), dan International Writing Program, Universitas Iowa, Iowa, USA (1983).  Pekerjaan: 1968-1975, ia bekerja di bagian publikasi Pusat Kesenian Jakarta-Taman Ismail Marzuki (PKJ-TIM), mengajar di  Seni Rupa LPKJ (IKJ). Ia juga bergabung dengan Teater Sardono yang melawat ke Eropa barat (1974). Karya-karya: Habis Tak Sudah (1968), Godlob (1975), Adam Ma’rifat (1982), Orang Jawa Naik Haji (1983), Berhala (1999), Asmaraloka (1999, Gergasi (1993), Setangkai Melati di Sayap Jibril (2001), dan Kacapiring (2008). Penghargaan: Hadiah Sastra 1982 Dewan Kesenian Jakarta, Hadiah Buku Utama 1982, SEA Write Award 1988 dari Kerajaan Thailand, dan Achmad Bakrie Award 2009.

(Triyanto Triwikromo/)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *