Science For All

      Tak ada komentar pada Science For All

Science For All (1)

oleh Ibnu Kahfi

(www.eramuslim.com) Ketika pulang dari institut dan sampai di rumah, saya ceritakan kejadian yang saya alami tadi pagi kepada Frau Weiergraeber. Frau Weiergraeber sendiri sulit mempercayainya. Frau Weiergraeber kemudian menanyakan nama orang itu dan kemudian mencarinya di buku telepon. Hanya ada satu Azhar dan alamatnya juga di Tetz, maka hampir pasti itulah orangnya. Saya pun akhirnya mengetahui alamat Bung Azhar ini. Ketika pertama kali ke rumahnya di sore hari, beliau sedang tidak di rumah karena rupanya juga kebiasaan beliau bersama istrinya untuk jalan-jalan dengan sepeda di sore hari, bahkan sampai ke kota Juelich.

Ketika bergabung dalam Forschungszentrum Juelich inilah saya menyadari bahwa ilmu pengetahuan itu bukan hak bangsa tertentu saja, tetapi hak semua. Seluruh umat manusia berhak mempelajarinya, mengembangkannya, berkontribusi pada kemajuannya, dan tentu saja memanfaatkannya secara luas. Amat mudah menemukan orang-orang Cina dan India di pusat riset ini. Belum lagi yang lainnya, dari Turki, Arab, Iran, Eropa Timur, Afrika, Asia Tengah, rasanya betul-betul beragam.

Ketika musim dingin belum mulai, saya biasanya mengendarai sepeda dari rumah melewati perladangan untuk kemudian mengambil kereta dari halte di desa terdekat, Tetz. Dari sana kereta akan membawa saya langsung ke halte Forschungszentrum Juelich. Nah, suatu saat ketika bersepeda saya mendapati seorang pria yang agak tua sedang lari pagi. Badannya kecil dan wajahnya tidak asing bagi saya. Maksudnya ketika melihatnya pertama kali, saya langsung merasa bahwa jangan-jangan bapak tua ini orang Indonesia.

Tetapi ketika pertama kali berjumpa, waktu rasanya tidak pas karena saya sedang memburu kereta dan beliau sendiri terlihat menikmati lari paginya. Kami saling melihat tetapi tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut kami. Kemudian ini berlanjut pada hari-hari berikutnya, cukup sering saya mendapati bapak tua ini lari pagi. Tetapi setiap bertemu tidak ada interaksi di antara kami. Saya waktu itu hanya berpikir, kalaulah dia orang Indonesia, pastinya dia sudah menyapa saya duluan karena dia juga melihat wajah saya pun orang Indonesia. Karena kami tidak bertegur sapa, maka saya hanya menduga bahwa bapak ini mungkin dari Vietnam atau negara asia lainnya.

Tetapi suatu saat ketika saya sedang berkendara sepeda, saya melihat bapak tua ini berjalan-jalan bersama istrinya. Ketika melihat istrinya, saya langsung yakin bahwa wajah itu adalah wajah tulen orang Indonesia, tetapi lagi-lagi waktu seolah menunda terjadinya pembicaraan awal di antara kami. Saya terlalu diburu-buru untuk segera sampai di halte kereta.

Suatu saat saya berniat untuk lebih pagi berangkat dari rumah sehingga bila bertemu orang itu bisa mengenalinya. Maka kami pun bertemu, lalu saya berhentikan sepeda saya, dan setelah mengucapkan, “Morgen[1]!“ saya pun bertanya, “Woher kommen Sie[2]?“ Saya merasa pertanyaan saya langsung to the point, tetapi saya memang tidak bisa lagi menahan diri untuk segera tahu sosok di depan saya ini. Terlihat sempat berpikir sejenak bapak itu, kemudian menjawab, “Ich komme aus Indonesien[3].“ Maka seketika itu pula saya berkata, “Ah Bapak, saya juga dari Indonesia!“ Itulah awal perkenalan kami. Saya hanya tahu namanya Azhar. Tetapi saat itu bukan waktu yang tepat untuk lebih mengenal, beliau pun kemudian mengingatkan saya agar tidak terlambat naik kereta, maka saya pun melanjutkan perjalanan sepeda saya.

Ketika pulang dari institut dan sampai di rumah, saya ceritakan kejadian yang saya alami tadi pagi kepada Frau Weiergraeber. Frau Weiergraeber sendiri sulit mempercayainya. Frau Weiergraeber kemudian menanyakan nama orang itu dan kemudian mencarinya di buku telepon. Hanya ada satu Azhar dan alamatnya juga di Tetz, maka hampir pasti itulah orangnya. Saya pun akhirnya mengetahui alamat Bung Azhar ini. Ketika pertama kali ke rumahnya di sore hari, beliau sedang tidak di rumah karena rupanya juga kebiasaan beliau bersama istrinya untuk jalan-jalan dengan sepeda di sore hari, bahkan sampai ke kota Juelich.

Jadi Bung Azhar ini dulu profesor fisika nuklir di Forschungszentrum Juelich dan sekarang sudah pensiun. Beliau juga sempat memegang posisi penting bidang nuklir di Indonesia dan kenal dengan nama-nama terkenal di Indonesia yang pejabat maupun mantan pejabat. Pengalaman langka bagi saya bisa mengetahui kesan beliau terhadap para pejabat dan mantan pejabat yang beliau kenal itu.

Bung Azhar ini amat berharap pada generasi muda untuk mengubah kondisi bangsa ini. Wajar saja, beliau mengalami kondisi bangsa ini dari ketika masa sulit di masa Soekarno, yang segala kebutuhan hidup sulit didapat karena Soekarno menolak masuknya modal asing karena dianggap imperialisme terselubung. Beliau hidup hingga orde lama berganti menjadi orde baru, dan sekarang kalaulah bisa disebut, masa reformasi.

Yang paling sering diulang-ulang Bung Azhar ini adalah, kondisi sekarang ini seperti jarum jam yang diputar mundur ke 50 tahun yang lalu. Tetapi ada dua yang berbeda, dahulu negeri ini masih perawan, segala kekayaan alam masih tersimpan aman, dan menunggu untuk dimanfaatkan oleh anak bangsa. Tetapi sekarang yang terjadi adalah, kekayaan alam negeri ini sudah diambil orang lain dan menunggu anak bangsa untuk menyesalinya. Ya, inilah yang ditekankan Bung Azhar.

Beberapa kali Bung Azhar menyuruh saya untuk membaca pidato-pidato Bung Karno pada masa antara kemerdekaan hingga 1959. Beliau bilang kondisi yang digambarkan dalam pidato itu persis dengan apa yang terjadi sekarang. Saya sendiri belum sempat memenuhi suruhan beliau ini karena dari mana saya bisa membaca pidato-pidato tersebut sedangkan saya di Jerman. Kalaupun ada, itu sebatas yang bisa saya dapat dari internet.

Saya sendiri tidak tahu banyak tentang Soekarno, tetapi rasanya cukup banyak referensi yang membahas proklamator pertama ini, baik yang ditulis orang lain maupun oleh sang tokoh sendiri. Terlepas dari begitu banyaknya kontroversi di setiap pembahasan tokoh ini, hanya satu yang saya tahu pasti, bahwa Soekarno adalah pemimpin yang ketika di masanya cukup banyak anak-anak bangsa ini yang juga pemimpin, tetapi anak-anak bangsa ini sepakat ketika harus ada satu pemimpin, maka Soekarno lah orangnya. Nah, sekarang, adakah pemimpin yang seperti ini? (Bersambung)

Catatan :

[1] Pagi!

[2] Anda berasal dari mana?

[3] Saya dari Indonesia

Science For All (2)

oleh Ibnu Kahfi
Ketika saya tanya bagaimana pendapat beliau mengenai rencana pembangkit listrik tenaga nuklir di Indonesia, maka beliau menjawab bahwa pada dasarnya beliau mendukung, tetapi beliau mempertanyakan mau disediakan dari mana sumber daya manusia yang akan bertanggung jawab mengurusnya sedangkan di Indonesia sendiri saat ini tidak ada program studi bidang nuklir. Ketika saya katakan bahwa di UGM ada Teknik Nuklir, karena saya sendiri dahulu sempat tertarik untuk kuliah di bidang ini, maka Bung Azhar menjawab bahwa sekarang sudah tidak ada lagi.

Bung Azhar menceritakan bahwa saat ini Jerman sudah tidak meneruskan pembangkit listrik tenaga nuklirnya. Alasannya adalah lebih politis ketimbang teknis. Ketika terjadi tragedi instalasi nuklir Rusia, maka kebanyakan partai politik di Jerman menyampaikan pada masyarakat bahwa hal sedemikian juga berisiko terjadi, maka sepantasnya urusan nuklir ini tidak diteruskan. Akhirnya ketika partai-partai tersebut menguasai lembaga perwakilan, maka tamatlah riwayat pembangkit nuklir Jerman.

Ketika saya tanya bagaimana pendapat beliau mengenai rencana pembangkit listrik tenaga nuklir di Indonesia, maka beliau menjawab bahwa pada dasarnya beliau mendukung, tetapi beliau mempertanyakan mau disediakan dari mana sumber daya manusia yang akan bertanggung jawab mengurusnya sedangkan di Indonesia sendiri saat ini tidak ada program studi bidang nuklir. Ketika saya katakan bahwa di UGM ada Teknik Nuklir, karena saya sendiri dahulu sempat tertarik untuk kuliah di bidang ini, maka Bung Azhar menjawab bahwa sekarang sudah tidak ada lagi.

Jadi sekarang jumlah tenaga ahli nuklir di Jerman semakin menyusut. Banyak yang pensiun tetapi penggantinya tidak banyak bermunculan. Bung Azhar mengatakan bahwa justru saat ini yang banyak berkecimpung dalam bidang nuklir di Jerman adalah bangsa Cina, jadi dia katakan bahwa bila suatu saat Jerman ingin membangun kembali pembangkit nuklirnya, maka mereka harus belajar dari orang Cina. Sempat saya tanyakan kenapa kondisinya berbeda dengan Perancis yang sampai saat ini persediaan listriknya masih didominasi oleh pembangkit nuklir, maka Bung Azhar mengatakan bahwa, dalam menyikapi alasan serupa sebagaimana di Jerman, rakyat Perancis lebih cerdas.

Tetapi memang, di masa sekarang kewarganegaraan boleh melihat bangsa, tetapi tidak bagi ‘warga negara ilmu pengetahuan’, status kewarganegaraannya tidak melihat bangsa. Darimana pun berpeluang untuk menguasai ilmu pengetahuan. Bahkan saya menjadi semakin yakin bahwa sebenarnya Umat Islam lah yang paling berhak untuk menjadi pemegang obor ilmu pengetahuan yang tidak pernah padam.

Tentu ada alasannya, dan ini saya dapati ketika pertama kali shalat Jumat di Juelich di mana hampir semua jamaah yang masih muda adalah mahasiswa master dan PhD di Forschungszentrum Juelich, dengan berbagai bidang ilmu yang ditekuni. Kalaupun ada satu yang tua, maka ia hanya Prof. Qaim, ahli kimia nuklir dari Pakistan. Yang lainnya adalah pemuda.

Ali, hanya itulah namanya, saudara saya dari Yordania. Setiap bertemu, maka sapaannya sesudah salam adalah “How is life?” Bagi saya sapaan ini tidak biasa walau sebenarnya penggunaannya dalam bahasa Inggris sama saja dengan “How are you”. Tetapi kadang-kadang saya suka mengartikan sesuatu secara tekstual bila itu sudah cukup sebagai arti. Maka kadang saya suka berpikir dahulu sebelum menjawab.

Suatu saat saya pernah menjawab sapaannya dengan “Alhamdulillah, insyaALLAH today is better than yesterday.” Maka yang saya dapati adalah wajah bingung Ali mendapati jawaban saya. Mungkin ia berharap jawaban “fine” yang lazim diucapkanlah yang menjadi sapaan balasan saya.

Nama belakang Ali adalah nama keluarganya yang terpaksa ia sandang karena di Jerman membutuhkan nama depan (Vorname) dan nama belakang atau keluarga (Familienname) dalam identitas resmi. Ketika saya tanyakan apakah nama orang-orang arab memang hanya satu kata, maka ia menjawab lazimnya memang demikian, tetapi saat ini juga mulai banyak orang-orang arab yang namanya lebih dari satu kata, tetapi tetap bukan kelaziman.

Saya pernah membaca gambaran fisik dari Imam Ali, walau saya tidak tahu pasti apakah referensi yang saya baca itu shahih atau tidak, namun beberapa ciri itu saya dapatkan pada saudara saya Ali ini. Ali ini sedang bekerja di bidang properti magnet. Sempat saya tanyakan beberapa hal mengenai bidang penelitiannya, tetapi yang saya ingat adalah, magnet yang diletakkan di atas substrat, propertinya bisa dipengaruhi oleh substrat di bawahnya, namun tidak sebaliknya. Ali ini satu institut dengan Prof. Gruenberg, sang peraih Nobel Fisika 2007.

Hanya saja Prof. Gruenberg lebih banyak bekerja dalam eksperimen. Ali kemudian menceritakan awalnya Prof. Gruenberg bisa meraih hadiah Nobel ini. Sebenarnya kata yang lebih layak adalah “diberi” bukan “meraih”, karena rasanya peneliti sejati itu meneliti bukan untuk mengejar penghargaan, tetapi penemuan dan kemanfaatan. Jadi Prof. Gruenberg ini hampir lima belas tahun menekuni suatu masalah, dan suatu saat secara tidak sengaja ia menemukan suatu fenomena yang ia sendiri belum jelas jawabannya.

Jadi kemudian ia menerbitkan paper yang mengungkap fenomena ini dan berharap ada yang menjelaskannya. Tetapi fenomena yang ditemukannya itu malah kemudian dimanfaatkan oleh para pengembang dan dunia industri, malah para mahasiswa yang mungkin tidak pernah tahu seorang Peter Gruenberg ketika mereka menggunakan USB stick-nya.

Sebenarnya sudah sejak lama saya memahami bahwa para peraih Nobel itu adalah pekerja keras yang langka. Ketekunan mereka luar biasa dan amat langka di banding rekan-rekan mereka lainnya. Kecerdasan tentu dibutuhkan, tetapi setiap saya membaca kisah-kisah peraih Nobel, maka yang menjadi kesimpulan bukanlah kecerdasan sang Nobelis, tetapi ketekunan mereka dan ketahanan mereka untuk tidak pernah menyerah, untuk suatu masalah yang bahkan di masanya dianggap tidak mungkin sekalipun.

Saya jadi teringat perkataan seorang peraih Nobel Fisika, saya lupa kalimatnya dalam bahasa Inggris, tetapi intinya adalah, “ketika belum mendapatkan jawaban yang diharapkan, teruslah mencari, suatu saat jawaban itu sendiri yang akan memperkenalkan dirinya pada kita, karena membalas sikap kita yang tidak pernah menyerah untuk mengenalinya.”(Bersambung)

Science For All (3)

oleh Ibnu Kahfi
Hal lain yang saya manfaatkan bila bertemu Ali adalah belajar tentang dunia Arab, khususnya Jordan dan mencari jawaban atas pertanyaan saya mengenai bahasa Arab. Ali mengatakan bahwa ketika kecil dahulu, di sekolah ia mendapatkan materi pelajaran persatuan arab. Namun sekarang materi itu tidak ada lagi di sekolah-sekolah dasar. Saya pun berujar, “Ali, persatuan arab berarti persatuan Umat Islam.” Ali pun setuju dengan ini tetapi memang itulah kenyataannya saat ini. Ketika saya menanyakan kondisi Palestina, Ali lebih banyak terdiam.

Ali ini adalah orang yang jelas dalam menyampaikan sesuatu. Bila kita bertanya maka ia akan berusaha sampai kita merasa jelas. Pernah suatu kali saya bertanya padanya software apa yang bisa saya pakai untuk membuat gambar sederhana seperti sebuah cell atau stack dari fuel cell, maka ia kemudian menganjurkan suatu software yang saya sendiri sulit memahami cara menggunakan software ini.

Saat itu kami sedang berjalan kaki selepas turun dari bis, maka untuk berusaha membuat saya paham, maka Ali kemudian berhenti dan berkata, “Cara kerja software ini seperti cara kerja manusia menangkap gambar. Ada sumber cahaya, ada objek, ada mata sebagai lensa. Nah tinggal tempatkan masing-masing bagian ini pada letak yang benar, maka dengan sendirinya gambar kita peroleh.” Ia lalu menunjukkan lampu jalan di dekat kami sebagai sumber cahaya, kemudian mengumpamakan pohon di dekat kami sebagai objeknya, dan kami yang sedang berdiri dan mata kami diumpamakan sebagai lensa. Begitu jelas ekspresi tangan dan suaranya ketika menjelaskan cara kerja software yang ia maksud. Waktu itu saya sebenarnya ingin tersenyum, karena lucu melihat tingkah Ali, tetapi kemudian berusaha saya pendam karena melihat ia sendiri betul-betul serius.

Kemudian saya bertanya berapa waktu yang dibutuhkan untuk belajar mengenali software ini, maka ia menjawab sebulan. Jawabannya membuat saya berpikir-pikir lagi hendak menggunakan software ini. Tetapi Ali meyakinkan bahwa software ini amat andal, bahkan bila kita sudah terampil menggunakannya, maka kita bisa menghasilkan gambar layaknya sebuah foto. Ia kemudian menyuruh saya untuk membuka website software tersebut dan lihat gambar-gambar yang dipajang. Ia katakan bahwa mungkin kita mengira itu foto, tetapi sebenarnya itu adalah hasil pekerjaan menggunakan software tersebut.

Software tersebut juga free dan biasa dipakai pada sistem operasi terbuka. Akhirnya saya hanya menggunakan software lain yang lebih sederhana namun free juga untuk kebutuhan saya ini, karena ternyata sudah cukup dengan apa yang saya inginkan. Terkadang saya merasa bersalah belum mencoba software yang dimaksud Ali ini, karena betapa ia sudah bersungguh-sungguh memberikan tutorialnya pada saya. Sampai sekarang software ini masih tersimpan di harddisk dan belum di-install. Mudah-mudahan ada saatnya saya mengingat kembali apa yang disampaikan Ali dan mencobanya langsung.

Hal lain yang saya manfaatkan bila bertemu Ali adalah belajar tentang dunia Arab, khususnya Jordan dan mencari jawaban atas pertanyaan saya mengenai bahasa Arab. Ali mengatakan bahwa ketika kecil dahulu, di sekolah ia mendapatkan materi pelajaran persatuan arab. Namun sekarang materi itu tidak ada lagi di sekolah-sekolah dasar. Saya pun berujar, “Ali, persatuan arab berarti persatuan Umat Islam.” Ali pun setuju dengan ini tetapi memang itulah kenyataannya saat ini. Ketika saya menanyakan kondisi Palestina, Ali lebih banyak terdiam.

Mungkin ia merasa tidak pantas menjawab karena walaupun ia tahu jelas dan geram dengan kondisi yang terjadi di sana, ia tetap belum bisa melakukan apa-apa untuk saudara-saudaranya itu. Suatu saat di mobil Ali pernah berseru, “We need acts, not words!” Ali pernah menjadi Khatib dan Imam di masjid. Bacaan Al Qurannya saya rasa adalah yang paling baik setelah imam masjid kami sebelumnya Husein, dari Lebanon. Husein ini juga masih muda. Selepas lulus dari Fachhochschule[1] Aachen yang salah satu kampusnya ada di Juelich, maka ia kemudian bekerja di Aachen dan sudah tidak bisa menjadi imam tetap masjid lagi, karena sudah tidak leluasa untuk berkunjung ke Juelich. Sesekali Husein masih terlihat ketika shalat Jumat di Juelich.

Ali ini kurang setuju jika amanah imam masjid itu diberikan pada mahasiswa atau para peneliti di Juelich, karena kemudian yang terjadi adalah ketidakkontinuan kepengurusan masjid jika mahasiswa atau peneliti itu meninggalkan kota tersebut. Ia berujar bahwa selayaknya dicari mereka yang paham ilmu agama dan ia menetap di kota ini untuk menjadi imam dan kemudian merekalah yang berusaha memakmurkan masjid dengan mengadakan kegiatan seperti sekolah Al Quran untuk anak-anak atau para jamaah.

Kemudian dana tunjangan untuk sang imam ditanggung oleh seluruh jamaah. Ia katakan begitulah yang terjadi di negaranya. Para imam masjid digaji sehingga mereka bisa fokus bekerja hanya untuk membuat masjid yang menjadi amanah mereka makmur dengan partisipasi jamaah. (Bersambung)

Catatan :

[1] Disingkat FH

Science For All (4)

oleh Ibnu Kahfi
Ali mengatakan bahwa setiap nabi diturunkan sesuai dengan kondisi kaum di mana nabi itu diturunkan. Nabi Isa diturunkan pada kaum yang mengenal dunia pengobatan. Sehingga ketika Nabi Isa berdakwah pada mereka, maka ALLAH memberikan mukjizat yang membuat kaum Nabi Isa tersebut kagum bahwa yang mereka lihat dari Nabi Isa tidak pernah mereka dapati pada pengetahuan mereka sebelumnya. Alasannya cuma satu, agar mereka yakin bahwa yang berkuasa atas itu adalah Yang Maha Kuasa Atas Segalanya.

Kesempatan lainnya ketika berbincang dengan Ali saya pergunakan untuk tahu lebih banyak tentang bahasa arab. Entahlah, bagi saya Bahasa Arab adalah bahasa yang paling indah dan paling mampu memenuhi kebutuhan berbahasa umat manusia karena lengkapnya perbendaharaannya. Pantaslah Al Quran diturunkan dalam bahasa Arab. Sungguh beruntung saudara-saudara saya yang bisa berbahasa Arab. Sampai sekarang saya suka sedih bila mengingat saya belum bisa berbahasa Arab. Entahlah, rasanya kesia-siaan terbesar saya saat ini adalah belum bisanya saya berbahasa Arab.

Ali mengatakan bahwa setiap nabi diturunkan sesuai dengan kondisi kaum di mana nabi itu diturunkan. Nabi Isa diturunkan pada kaum yang mengenal dunia pengobatan. Sehingga ketika Nabi Isa berdakwah pada mereka, maka ALLAH memberikan mukjizat yang membuat kaum Nabi Isa tersebut kagum bahwa yang mereka lihat dari Nabi Isa tidak pernah mereka dapati pada pengetahuan mereka sebelumnya. Alasannya cuma satu, agar mereka yakin bahwa yang berkuasa atas itu adalah Yang Maha Kuasa Atas Segalanya.

Jadi ketika Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk memulai dakwahnya dari kaum di mana Rasulullah berada, maka bangsa Arab saat itu adalah bangsa yang amat menghargai sastra karena mereka memang amat menguasai sastra. Ketika Rasulullah membawa mukjizat berupa Al Quran, maka itu untuk mengatakan bahwa mana yang lebih indah, sastra buatan bangsa Arab itu atau untaian kalimat yang dirangkai langsung oleh ALLAH Yang Ahad. Itulah kenapa kemudian ALLAH menantang mereka untuk membuat satu ayat saja serupa Al Quran, tetapi mereka memang tidak bisa.

Saya lalu bertanya pada Ali kenapa orang Arab belum tentu bisa membaca Al Quran. Ali menjawab bahwa karena memang Al Quran itu bahasanya lebih tinggi dari bahasa Arab yang saat ini dikenal. Ia katakan bahwa dibutuhkan ketelitian dan tidak boleh main-main dalam mengucapkan Al Quran karena nanti yang terjadi adalah secara grammar tidak tepat dan maksudnya pun menjadi berbeda. Waktu itu Ali mencontohkan ayat yang mengatakan bahwa yang takut kepada ALLAH hanyalah ulama. Maka jika orang yang mengucapkannya mengabaikan tata bahasa, maka yang terjadi adalah objek dan subjek tertukar, dan tentu saja artinya amat salah.

Saya sempat bertanya pada Ali apakah Abu Bakar itu memang nama Sang Sahabat. Maka Ali menjawab bahwa itu hanya nama kecil Sang Sahabat dan begitulah seterusnya ia dikenal oleh kaumnya. Nama Abu Bakar sendiri aslinya adalah Abdullah. Saya lalu bertanya apakah nama yang memakai „Abu“ tidak harus berarti bahwa ia adalah anak dari nama sesudahnya. Ali menjelaskan bahwa tidak harus. „Abu“ bisa dipakai untuk menunjukkan kedekatan seseorang dengan kata sesudahnya. Waktu itu ia bahkan menyebut, orang yang ahli fisika pun bisa saja disebut “Abu Physics.”

Contoh lain yang ia utarakan adalah Sahabat Abu Hurairah r.a. yang karena kedekatannya dengan kucing kemudian mendapat panggilan ini. Saya lalu bertanya apakah Umar Bin Khattab adalah anak dari Khattab. Ali dengan sabarnya menjelaskan bahwa Khattab itu bukan nama ayah sang sahabat, tetapi adalah julukan untuk sang ayah, Al-Khattab. Jadi sebenarnya Umar bin Al-Khattab. Saya pun melanjutkan dengan nama putri Rasulullah SAW yang diawali dengan “Ummu”, apakah memang ia adalah ibu dari nama sesudahnya. Maka Ali sempat bingung ketika menjawab pertanyaan saya ini. Ia katakan bahwa bila “Ummu“ dipakai dengan nama lain maka itu lazim di Arab bila digunakan sebagai nama, ia lalu mencontohkan salah satu artis wanita Arab yang berawalan “Ummu“. Tetapi bila”Ummu“ itu dipakai sebagai nama kecil layaknya Abu Bakar, ia katakan bahwa ia belum pernah mendapatinya. Sebenarnya pertanyaan saya ini saya arahkan untuk bertanya mengenai pertanyaan terakhir saya.

Apakah seseorang yang bernama “Ibnu” harus berarti anak dari nama sesudahnya. Maka Ali pun menjawab itu tidak harus. “Ibnu“ itu bisa dipakai untuk menunjukkan kedekatan dengan nama sesudahnya. Waktu itu Ali pun lalu mengingatkan mengenai Maryam yang juga disebut Akhu Harun. Itu bukan berarti Maryam adalah saudara Nabi Harun, tetapi semata menunjukkan bahwa Maryam adalah wanita yang keimanannya amat menyerupai Nabi Harun. Saya sebenarnya hanya ingin tahu maksud di balik nama saya.

Suatu saat ada Ali yang datang ke rumah saya di Flossdorf. Ali ini bukan Ali saudara saya di Forschungszentrum Juelich, tetapi Ali yang ini adalah saudara saya dari Yaman. Entahlah, kadang saya merasa pengalaman hidup saya banyak yang aneh-aneh hingga harus berjumpa dua Ali dengan karakter yang berbeda sama sekali. Ali ini dahulu pernah tinggal di tempat Frau Weiergraeber selama 3 bulan, sebelum kemudian ia pindah ke Juelich yang lebih dekat dengan kampus studinya di FH Aachen kampus Juelich.

Ketika di sini dahulu ia juga sempat mengajari Luka pelajaran matematika. Saat ini ia sedang menyelesaikan master bidang teknologi kedokteran, tomography, di Koeln. Pertama kali bertemu di depan pintu rumah Frau Weiergraeber, saya sudah bisa langsung tertawa-tawa dengan dia. Orangnya lucu dan banyak bicara. Gayanya sedikit santai dan waktu itu sambil merokok. Karena banyaknya bicaranya, Frau Weiergraeber sempat mengingatkan batang rokoknya yang sudah hampir habis mencapai jarinya. Saya tentu tertawa melihat tingkah Ali ketika meyadari ini.

Ia kemudian melihat nama saya yang tertera di dekat pintu masuk dan mengomentarinya. “Oh..Kamu tahu apa arti nama Kamu?“ Saya pun tidak menjawab tetapi malah bertanya, “Apa?“ Ia lalu menjelaskan bahwa Kahfi itu berarti cukup. Saya tentu heran dengan makna yang ia sampaikan berbeda dengan yang saya duga sebelumnya. Ia melanjutkan bahwa Kahfi itu berarti kalau sudah memiliki sesuatu itu maka itu sudah cukup dari segalanya. Tidak perlu yang lain lagi kalau sudah memilikinya, karena itu disebut cukup.

Saya tentu senang dengan arti yang diutarakan Ali tetapi tentu saja saya juga bingung kok artinya bisa berbeda dengan yang selama ini saya pahami. Saya pun lalu mengeja nama saya dan terdengar jelas oleh Ali saya menyebut “H“ ketika menyebut nama saya ini. Ali pun lalu bertanya apakah saya mengeja nama saya layaknya orang Jerman atau ikut menyebut “H“ nya. Saya tentu menjawab yang kedua. Rupanya Ali awalnya mengira ejaan saya layaknya dalam bahasa Jerman yang bila ada huruf “H“ di tengah maka tidak disebut, dan bila ada huruf vokal yang mendahuluinya maka, sebutan huruf tersebut diperpanjang. Jadi sebenarnya maksud Ali adalah “Kafi“.

Lalu saya pun bertanya, “Nah sekarang apa artinya?“ Ia hanya terdiam seolah mencari makna yang pantas diutarakan. Waktu itu ia hanya mengatakan, “Apa ya?“ Ia mencoba menjelaskan kepada Frau Weiergraeber sesuatu yang disebut gua tetapi ia lupa bahasa Jermannya. Kemudian saya lanjutkan, “Ada arti lainnya?“ Ia hanya menjawab, “Hanya itu.“ Ketika saya sempat chat dengan istri saya di warnet, maka saya ceritakanlah pengalaman saya dengan Ali ini. Saya katakan pada istri saya bahwa saya rasanya lebih suka dengan arti awal yang dikatakan Ali terhadap nama saya.

Yang saya tahu bahwa yang memberi nama saya bukanlah orang tua saya, tetapi kakek saya dari ayah, saya memanggilnya Aki. Jadi waktu itu Aki saya sudah menyiapkan dua nama untuk cucunya ini, tetapi nama yang satu ternyata sudah dipakai oleh temannya, hingga nama yang tersisa lah yang kemudian dia berikan pada saya. Nama Bachtiar sendiri baru saya tahu pasti artinya ketika bertemu Nazanin, rekan kerja saya dari Iran. Selama ini yang saya tahu dari ayah saya, nama akhir saya yang juga nama ayah saya ini mempunyai arti beruntung. Tetapi ayah saya sendiri tidak bisa menjelaskan dari mana arti ini datang. Saya yang pernah mencari kata ini dalam bahasa Arab tidak juga menemukannya dalam bahasa ini. Rupanya Bachtiar itu berasal dari Bahasa Persia.

Nazanin ketika melewati ruangan saya dan mendapati nama saya di pintu yang berakhiran Bachtiar, maka ia malah menyangka orang yang di dalam ruangan juga adalah orang Iran, tetapi ketika melihat saya, maka orang yang ia dapati bukanlah berwajah Iran. Nazanin kemudian menjelaskan bahwa Bachtiar itu di Iran disebut dengan Bachtyar. “Bacht“ artinya beruntung, dan “yar“ artinya teman. Tetapi artinya bukanlah teman yang beruntung, melainkan keberuntunganlah yang selalu menjadi temannya. Saya kemudian berpikir bahwa amat beruntunglah orang-orang yang bernama ini bila dia memang seperti apa yang terdapat pada namanya. Saya malah berencana untuk menjelaskan ini pada ayah saya kelak. Nama ini pun rasanya juga tidak susah ditemui dari masyarakat kita dari daerah Sumatera, sehingga kadang saya terpikir bagaimana sisa Bahasa Persia ini masih bisa meninggalkan jejak di nusantara selain Bahasa Arab yang memang sudah lebih jelas sejarahnya. (Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *