Peningkatan Cadar Khawatirkan Mesir

By Republika Newsroom
Rabu, 07 Oktober 2009 pukul 12:48:00

Peningkatan Cadar Khawatirkan Mesir
AP

Cadar semakin populer di pemandangan jalan-jalan Kairo

KAIRO–Ulama terkemuka Mesir, Muhammad Sayed Tantawi, berencana untuk melarang pelajar wanita mengenakan cadar masuk ke sekolah Al Azhar, salah satu institusi pendidikan Islam terbesar. Hal itu dilaporkan oleh sebuah surat kabar independen, Al Masry al-Youm.

Petugas keamanan institusi juga mengonfirmasi bahwa polisi telah memerintahkan melarang para gadis yang menutup tubuh dari kepala hingga ujung kaki, untuk masuk ke kompleks Al Azhar. Aturan itu berlaku untuk sekolah menengah dan tinggi, begitu pula asrama di beberapa universitas Kairo.

Langkah itu dinilai sebagai bagian upaya pemerintah membendung manifestasi ultrakonservatif Islam yang makin meningkat di Mesir. Meski saat dikonfirmasi, Al Azhar menyangkal menerapkan kebijakan tersebut

Sementara, salah satu penghuni asrama wanita universitas, mengatakan siswa dihentikan di pintu gerbang ketika mencoba masuk dengan memakai cadar. “Saya tidak mengerti tujuan ini. Jika untuk keamanan, kita bisa mengangkat cadar dan menunjukkan pada mereka kartu identitas kami,” ujar siswa yang hanya mengaku bernama Heba.

Tidak ada pandangan seragam di dunia Muslim, terkait jilbab. Namun soal cadar, dalam kunjungan terbaru di sebuah sekolah, Syekh Tantawi mengatakan tegas, “Cadar tidak ada kaitan dengan islam,”.

Sebagian wanita Muslim di Mesir memang mengenakan jilbab yang menutup rambut, namun cadar, menjadi pemandangan kian populer di jalan-jalan Kairo

Mayoritas ulama besar di Mesir–yang setuju seorang wanita harus menutupi rambutnya–mengatakan cadar tidaklah penting. Pakaian tersebut–di Timur Tengah–diasosiasikan dengan pengikut Salafisme, sekolah dengan ajaran ultra-konservatif yang sebagian besar dipraktekan di Arab Saudi.

Salafisme, menurut kalangan ulama memiliki banyak persamaan dengan ideologi Al Qaidah. Namun sebagian besar pengikutnya cenderung menjauhi politik dan menitikberatkan pada penyebaran pemurnian agama dan keyakinan seperti awal-awal Islam.

Pengamat mengatakan tren bercadar tidak hanya sumber keprihatinan pemerintah tetapi juga Al Azhar. Mesir selama tiga tahun menjadi saksi serangan militan fundamentalis, dimulai dengan pembunuhan presiden Anwar Sadat pada 1981.

Tahun ini, negara itu menahan dua orang atas dakwaan mengebom pasar Kairo yang menewaskan remaja Perancis. Bom juga menghancurkan toko perhiasan dan membunuh empat pendeta Kristen.

“Ada keprihatinan pemerintah tentang Salafisme, ” ujar pakar politik Islam, Diaa Rashwan, dari Ahram Centre untuk Studi Strategi dan Politik. “Ada tren sekuler di pemerintahan dan cadar jelas berseberangan,” ujar Diaa. “Dan Al Azhar, akan selalu memiliki kecurigaan tidak sejalan dengan tren yang menantang legitimasi institusi tersebut,”.

Al Azhar telah lama menikmati reputasi sebagai sumber pembelajaran dan fatwa kalangan Islam Suni paling terkemuka. Sedangkan, banyak pengikut Salafi memandang pengajaran teologi Al Azhar tidaklah layak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *