Tenda Putih Menjamur di Mina

By Republika Newsroom
Jumat, 20 November 2009
PHOTOBUCKET.COM

JEDDAH–Tenda-tenda berwarna putih di kawasan Mina yang dari kejauhan tampak bagaikan hamparan jamur mampu menampung jutaan jemaah calon haji yang berdatangan dari berbagai penjuru dunia untuk menunaikan rukun Islam kelima itu. Dilapisi bahan teflon tenda-tenda tersebut mampu menahan panas api sampai dengan suhu 700 derajat Celcius.

Dengan luas sekitar 650 hektare, kontur daratan Mina berupa hamparan padang pasir diselang-selingi lembah kering dan bukit-bukit berbatu, terletak di antara Kota Suci Mekah dan Muzdalifah (berjarak sekitar 20Km). Mina oleh bangsa Arab disebut Muna atau Pengharapan, meriwayatkan saat Nabi Adam dibisiki mengenai harapan bertemu dengan Siti Hawa yang berpisah selama 200 tahun setelah keduanya diusir dari Taman Firdaus karena melanggar larangan Allah memakan buah Qulbi.

Sejumlah lokasi penting berada di Mina seperti jamarat (tempat melontar batu di tiga jumrah), mesjid bersejarah Al-Khaif, juga rumah sakit yang disiapkan bagi jemaah calon haji yang perlu dirawat saat melakukan ritual haji di Mina.
Di dekat jamarat juga terdapat Mesjid Al-Baiat, tempat Nabi Muhammad dibaiat oleh kaum Ansor sebagai warga setempat. Konon bangunan mesjid itu pernah terpendam di tanah dan baru ditemukan lagi setelah sebuah buldozer terantuk bangunan mesjid saat kawasan itu akan ditata kembali.

Jembatan Jamarat yang saat ini bertingkat lima, lebar 80 meter dan panjang 950 meter, dibangun dengan biaya SR4,5 miliar (sekitar Rp112,5 triliun).  Mengantisipasi peningkatan jumlah calon haji di masa-masa mendatang, jembatan jamarat didesain untuk bisa ditingkatkan lagi menjadi 12 lantai sehingga mampu menampung lima juta jemaah yang hendak melontar jumrah sekaligus.

Jembatan jamarat bisa diakses melalui tiga terowongan, 11 jalan masuk dan 12 jalan keluar, dilengkapi lapangan udara (sejumlah helipad) dan sistem pendingin udara (cooling system) yang menyemprotkan butir-butir uap air untuk menjaga suhu udara agar tidak lebih dari 29 derajat Celcius. Areal jamarat juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang diperlukan jemaah seperti toko-toko kebutuhan sehari-hari, tukang pangkas, warung dan gerai-gerai makanan cepat saji, deretan toilet umum dan pusat layanan kesehatan.

Sekitar 12.000 Satpam diterjunkan untuk mengamankan jemaah yang sedang melontar jumrah, dibantu ratusan kamera (CCTV) yang diawasi dari Ruang Operasi sehingga memungkinkan petugas pengamanan segera tiba jika terjadi sesuatu.
Kawasan jamarat membentang seluas 20 hektare di areal barat Mina terdiri dari Jumrah Ula, Jumrah Wustha dan Jumrah Ula. Jumrah Wustha berjarak 150 meter dari Jumrah Ula, sedangkan Jumrah Aqabah berjarak 190 meter dari Jumrah Wustha.

Tragedi Mina terjadi pada 2 Juli l990 merenggut 1.400 nyawa termasuk 659 jemaah Indonesia saat mereka berdesak-desakan di terowongan Muashim di Mina, sedangkan tragedi kedua terjadi pada 2004, menelan 56 korban jiwa jemaah Indonesia yang berdesakan melempar jumrah.Saat ini lima tingkat jembatan jamarat sudah siap dioperasikan dan mampu menampung sekaligus 300.000 jemaah yang hendak melontar jumrah. Petugas keamanan akan mengatur agar tiap gelombang jemaah tidak lebih dari jumlah tersebut. Gelombang berikutnya baru diizinkan masuk jembatan jamarat setelah gelombang sebelumnya usai melontar jumrah dan sudah meninggalkan jembatan jamarat.

Ritual melontar jumrah dilakukan untuk memperingati saat Nabi Ibrahim digoda setan agar membangkang dari perintah Allah untuk menyembelih puteranya, Ismail. Ritual jumrah dilakukan pada l0 Zulhijah (pada 1430H, Jumat 27 November saat Idhul Adha) dengan melontar Jumrah Aqabah mulai saat tergelincirnya matahari di tengah hari sampai tengah malam, dilanjutkan sampai ketiga hari setelah itu (hari Tasyrik) dengan melontar ketiga jumrah (Ula, Wustha, Aqabah) mulai saat tergelincirnya matahari sampai tengah malam.

Sehari sebelumnya, pada 9 Zulhijah, jemaah melakukan wukuf atau ritual perenungan diri di Padang Arafah (25 Km dari Mekah) guna menimbang-menimbang pahala dan dosa yeng pernah dilakukan. Selepas tengah malam, jemaah bergeser ke Muzdalifah untuk mabit (mengambil batu, persiapan melontar jumrah).  Wukuf menamsilkan saat manusia berada di hari penantian (Padang Masyhar) dalam formasi antre, menanti giliran untuk dihisab (ditimbang-timbang amal baik dan buruknya). Wukuf adalah rukun haji yang harus dilakukan oleh calon haji, jika tidak, ibadah hajinya dianggap tidak sah.

Selain ribuan tenda putih, enam menara berlantai 12 yang mampu menampung 20.000 jemaah juga sudah dibangun dan rencananya akan dikembangkan terus dengan memapas bukit-bukit batu di kawasan Mina hingga mampu menampung tambahan satu juta jemaah lagi. Kawasan Mina juga dilengkapi tiga rumah sakit yakni Mina Wadi, Mina Al-Jisr dan Mina Jalan Baru.

Mina Wadi berkapasitas l94 tempat tidur (25 untuk pasien sengatan panas matahari dan 24 ruang observasi dan dua ruang operasi), Mina Al-Jisr berkapasitas 140 tempat tidur dan 28 ruang rawat intensif sedangkan Mina di Jalan Baru berkapasitas 50 tempat tidur. Delapan rumah jagal yang dibangun oleh Bank Pembangunan Islam dan mampu menampung l,5 juta hewan kurban berada di lembah Muaisin, timur Mina.

Sebelumnya hewan-hewan kurban disembelih di dekat jamarat sehingga menyebabkan gangguan kesehatan dan lingkungan. Hewan kurban yang disembelih dikirim ke 25 negara yang memerlukannya. Di Mina terdapat 25 terowongan yang menghubungkan wilayah itu dengan Mekah, termasuk 41 jembatan, jembatan layang (flyover) dan jalan sepanjang 70 Km.

Bagi jemaah yang ingin berjalan kaki untuk melepar jumrah, disediakan pula 4,5 Km ruas jalan selebar 30 meter.
Calon haji yang akan menunaikan rukun Islam kelima itu mulai tahun depan (l431H) diharapkan tidak dipusingkan lagi oleh kepadatan arus lalu-lintas yang terjadi setiap musi haji dari tahun ke tahun karena sistem jaringan monorel tahap pertama dijadwakan sudah bisa dioperasikan.

Pada tahap pertama, kereta monorel tersebut akan mampu mengangkut setengah juta jemaah selama beroperasi enam sampai delapan jam sehari, menghubungkan halte-halte di kota Mekah, menuju Arafah, Muzdalifah dan Mina. Secara bertahap, sistem jaringan monorel itu diharapkan akan mampu mengangkut lima juta penumpang, menggantikan 30.000 kendaraan-kendaraan kecil. ant/kpo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *