Sarcozy: Muslim Harus Berhati-Hati Jalankan Perintah Agama

PARIS (Arrahmah.com) – Nicolas Sarcozy memancing perdebatan dengan sebuah peringatan terhadap kaum Muslim untuk mempraktikkan agamanya secara hati-hati atau menghadapi penolakan oleh Islam moderat di Perancis.

Presiden menyuarakan simpati bagi para pemilik hak pilih Swiss yang memilih untuk melarang menara Masjid minggu lalu saat ia berusaha menerangkan kembali yang ia maksud dalam sebuah perdebatan mengenai identitas nasional yang ia luncurkan bulan lalu namun yang sejak saat itu telah lepas dari kendalinya.

Selama satu minggu, Sarkozy tampak menarik diri dari komentar-komentar aslinya menyusul sebuah aksi balasan mengenai cara mereka dimanfaatkan untuk melawan kaum imigran, terutama Muslim.

Namun dalam sebuah kolom di harian Le Monde, Sarkozy kembali ke temanya dan mengatakan bahwa hasil dari referendum Swiss menunjukkan betapa pentingnya bagi Perancis untuk mendefinisikan identitasnya.

“Daripada mengecam Swiss telah kebablasan, lebih baik kita mencoba memahami apa yang ingin mereka ekspresikan dan apa yang dirasakan oleh banyak orang Eropa, termasuk rakyat Perancis,” ujarnya, “Tidak ada yang lebih buruk daripada penyangkalan.”

Sarkozy menyerukan toleransi dan menggarisbawahi penghormatan Perancis terhadap semua agama, namun pesannya ditujukan terutama untuk meyakinkan mereka yang tidak senang dengan apa yang mereka lihat sebagai kehadiran Muslim yang mengancam di negara tersebut.

“Kristen, Yahudi, Muslim, semua penganut agama, harus menahan diri dari kemegahan dan provokasi dan mempraktikkan ajaran agama dengan sederhana dan berhati-hati,” ujar Sarkozy.

Sarkozy juga mengatakan bahwa apa pun yang muncul sebagai sebuah tantangan terhadap warisan Kristen Perancis dan nilai-nilai republikan akan menggagalkan Islam moderat di Perancis.

Dalam melontarkan kalimat itu, Sarkozy secara implisit menolak serangan dari golongan kiri, dunia intelektual, dan sejumlah figur senior di kamp Gaullistnya sendiri atas apa yang mereka lihat sebagai sebuah rencana untuk menstigmatisasi kaum imigran.

Dominique de Villepin, salah satu dari tiga mantan perdana menteri Gaullist tidak setuju, mengatakan bahwa perdebatan Sarkozy terkesan terburu-buru dan brutal. Jean-Pierre Raffarin, mantan perdana menteri lainnya, mengatakan bahwa Sarkozy telah meluncurkan perdebatan bergaya pub.

Target pemirsa Sarkozy adalah kelompok konservatif dan pemilih sayap kanan yang mendukungnya untuk menjadi presiden di tahun 2007. Ia mendebat bahwa mempertahankan identitas nasionl adalah sebuah hal yang mulia, dan hanya ditentang oleh kaum elit.

Sarkozy menikmati mayoritas dukungan publik dengan penentangannya terhadap wanita Muslim yang menutup wajahnya di tempat umum. Parlemen meninjau kembali cara-cara menangani praktik ini.

Jajak pendapat menunjukkan peningkatan kekhawatiran terhadap enam juta populasi Muslim. Sebuah survei yang dilakukan minggu lalu menemukan bahwa 46% memilih agar menara dilarang, dengan 40% yang menentang larangan itu. Lebih dari 40% menentang pembangunan Masjid apa pun, bandingkan dengan hanya 19% yang mendukung,

Perancis memiliki 64 Masjid dengan menara namun hanya tujuh yang dibangun dengan ketinggian maksimal, menurut Menteri Dalam Negeri, Brice Hortefeux.

Partai Sosialis dan kelompok kiri memboikot perdebatan itu. Sekitar 30.000 orang sejauh ini telah menandatangani  sebuah petisi yang menyerukan  agar perdebatan itu dihentikan.

Kampanye Sarkozy juga menimbulkan kegelisahan di antara beberapa anggota parlemen di partainya, UMP (Union for a Populer Movement). Minggu lalu, tersebar ketidaksetujuan ketika seorang pejabat UMP, Andre Valentin, walikota di sebuah desa di utara memberikan dukungan yang bersifat menyinggung terhadap perdebatan itu. “Ini saatnya kita bereaksi karena kita akan dimakan hidup-hidup,” ujarnya melalui pesawat televisi. “Jumlah mereka kini 10 juta, 10 juta orang dibayar tanpa melakukan apa-apa.”

Kontributor anti-imigran telah menuliskan komentar-komentar rasis di sebuah situs internet yang dibuka untuk perdebatan oleh Eric Besson, Menteri Imigrasi dan Identitas Nasional. Komentar-komentar itu meliputi: “Menjadi orang Perancis berarti menjadi orang kulit putih, hanya itu” dan “Menjadi orang Perancis berarti parkir mobilmu di dalam garasi untuk menghindari pembakaran terhadapnya.”

Perdebatan identitas telah mengkonfirmasi Besson, mantan Sosialis senior, sebagai sosok yang dibenci di kampnya. (sm/arrahmah.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *