BioChip Buatan Dr. Jaka Sasmita

Kumpulan artikel terkait biochip Dr. Jaka Sasmita dan terapi nuklir

Map Padepokan:

http://maps.google.com/maps?saddr=Jalan+Dukuh+Patemon%2C+Semarang%2C+Indonesia&daddr=-7.922193%2C110.389401&hl=en&ll=-7.92248%2C110.389531&spn=0.004107%2C0.006866&sll=-7.923069%2C110.389112&sspn=0.004107%2C0.004823&geocode=FTMrlP8dRJuUBimdvCJYXYlwLjHcEdfWHPMX-A%3B&vpsrc=6&mra=mift&mrsp=1&sz=18&t=h&z=18

Kripik Pedas dari Imogiri

Rasanya sedikit orang yang seperti Joko Sasmito. Mantan dosen Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, ini memutuskan menjauhkan kelima anaknya dari pendidikan formal. “Sekolah hanya buang waktu dan uang,” kritiknya. Nah, lo! Dia ingin membuktikan: tanpa sekolah formal anak-anaknya tetap berpotensi jadi “orang”! Kini sebagian anaknya sudah menjadi “peneliti dan penemu muda” tanpa embel-embel gelar berkat didikannya di rumah.

“Kripik (kritik dan pembuktian) pedas” ala Joko Sasmito bak tonjokan buat dunia pendidikan nasional yang sudah berkarat dengan beragam opini negatif. Mulai komersialisasi sekolah, kurikulum yang nyaris berganti saban tahun, sampai kurangnya materi aplikasi yang dapat dimanfaatkan sebagai bekal hidup di kemudian hari.

“Saya ingin anak-anak punya kemampuan yang betul-betul ada aplikasinya. Sekolah formal punya, tapi tidak seperti yang saya inginkan. Kalau saya paksa mereka bersekolah, sepertinya tak akan ‘jalan’,” bilang Joko, sembari melanjutkan, “Saya tidak antipendidikan formal. Tapi antipemborosan. Saya tempuh jalan ini supaya lebih efisien. Apalagi ajaran Islam melarang umatnya melakukan perbuatan yang mubazir.”

“Coba kalau dana yang miliaran itu dibelikan beras. Lalu berasnya dibagi rata kepada rakyat, yang penting tidak ada yang kelaparan dulu. Habis itu baru mikirin bagaimana caranya agar orang bisa menulis dan membaca. Kemajuan ilmu dan seterusnya itu soal sekunder. Yang penting bisa makan dulu,” ucap lelaki asal Imogiri ini dengan mata nanar.

Oh ya, buat yang masih belum mudeng, Joko Sasmito adalah penemu biocip (biochip), benda kecil yang tak hanya berfungsi sebagai miniatur cip (chip), tapi juga pengganti rangkaian beragam peralatan elektronik. Dengan biochip, beragam peralatan dapat diminiaturkan sehingga berukuran jauh lebih kecil daripada aslinya.

Tak usah jadi profesor

Joko tidak main-main. Dari kelima anaknya, hanya si sulung Ida Saraswati (26) yang sempat menempuh pendidikan sampai kelas II SMA. Anak kedua, Dika Sistrandari (24) cukup puas dengan lulus SMP, sedangkan anak ketiga Sikla Estiningsih (22) hanya lulus SD. Dua lainnya, Agus Siklawida (19) bersekolah sampai kelas I SMP, sementara si bontot Tifa Siklawati bahkan tak tamat SD.

Seperti dibilang Joko dan diamini Ida Saraswati, mereka sekeluarga kompak meyakini, kemampuan nyata jauh lebih penting daripada kemampuan formal. “Awalnya, mereka tetap saya sekolahkan, lalu saya hadapkan pada pilihan: apakah ingin tetap bersekolah atau mengikuti jejak saya sebagai peneliti,” cetus lelaki yang usianya menjelang kepala enam itu. Hebatnya, mereka semua memilih mengikuti jejak sang ayah.

Kepercayaan mereka disambut Joko dengan penuh keyakinan.

“Sejak awal, saya sudah tahu apa saja yang layak diajarkan untuk mereka. Saya sudah menghitung, dengan sekolah yang ada sekarang, mereka tidak akan mencapai itu. Meskipun lulus perguruan tinggi, bahkan menjadi profesor sekalipun, belum tentu mereka bisa membuat biocip, misalnya,” imbuh Joko.

Penelitian yang dikembangkan keluarga Joko Sasmito tidak terpaku pada ilmu tertentu, tapi bersifat multidisiplin. Ida (yang sebelumnya tak pernah berkenalan dengan ilmu komputer), bertugas meneliti dan membuat software komputer, khususnya untuk mendukung hardware yang dihasilkan dua adiknya, Agus dan Dika. Sedangkan Sikla, punya tugas membuat biochip, sekaligus meminiaturkan penemuan adik-adiknya.

Dalam perjalanannya, kelima kakak beradik itu – di bawah bimbingan Joko tentunya – telah sukses membuat fonokardiograf (pendeteksi detak jantung), ekokardiograf (juga untuk jantung), alat pengukur kerja otak (electroencephalogram, EEG), perangkat terapi dan operasi jarak jauh, scanner, serta media penyimpanan seperti compact disc (CD) dan disket (yang ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan mereka).

Joko kini bahkan tengah mendorong anak-anaknya untuk membuat telepon seluler. Sejak putra-putrinya tak bersekolah lagi, sang bapak mencoba menempatkan diri sebagai penggugah semangat, sekaligus guru dan supervisor buat anak-anaknya. Istilah dia, “Saya yang membuat pertanyaan, lalu saya biarkan mereka berpikir mencari jawabannya.”

Daftar temuan di atas belum termasuk peralatan praktis yang tidak diminiaturkan, karena memang sengaja dibuat untuk pemakaian pribadi atau kemaslahatan umat. Misalnya, komputer pribadi, alat pemompa air otomatis, alat presensi mesjid, dan masih banyak lagi. Saking banyaknya, Joko sampai tak bisa menyebutkan satu per satu.

Kolaborasi Ida, Dika, Sikla, Agus, dan Iva di laboratorium kini menjadi napas keluarga Joko Sasmito. Dalam menghasilkan dan memanfaatkan alat teleterapi (penyembuhan jarak jauh) contohnya, Agus dan Dika bertugas mengemas biochip teleterapi yang dihasilkan Sikla (kadang dibantu si bontot Iva) dalam kemasan mirip ball point, sehingga mudah di bawa ke mana-mana. Tapi alat itu tak akan bekerja sebagaimana mestinya jika tidak didukung software bikinan Ida.

Berkat software Ida, “permintaan pengobatan” dari telepon seluler pasien diterima dengan baik oleh telepon seluler keluarga Joko Sasmito, lalu dihubungkan secara otomatis ke komputer. Setelah melalui proses pengolahan data, komputer akan “menjawab” permintaan tadi dengan mengirim “obat” berupa sinar laser ke pasien, juga lewat jalur seluler.

“Bagaimana caranya sinar laser itu bisa terkirim lewat ponsel, biarlah menjadi ‘rahasia perusahaan’,” sebut Joko sambil mengumbar senyum tipis. “Yang pasti, bukan klenik atau sihir. Karena pengobatan yang dilakukan murni menggunakan gelombang dan bisa dijelaskan secara ilmiah,” sebut Joko lagi, yang mengklaim sembuhnya sejumlah penderita kanker getah bening dan kista dalam rahim.

Dari hilir ke hulu

Joko Sasmito yang berlatar pendidikan formal kimia, mengaku menguasai ilmu-ilmu lainnya secara otodidak. “Dari buku hampir tidak ada bahan yang mendukung penelitian saya, begitu juga internet. Saya hampir tidak pernah melihat internet. Semua didapat dari coba-coba di ‘laboratorium’,” jelas lelaki sederhana ini, ketika ditanya dari mana asal ilmu multidisiplin yang ditularkan pada anak-anaknya.

“Saya tidak pakai teori Einstein atau Archimedes, tapi teori saya sendiri, Siklus Kaifa,” imbuhnya kalem. Siklus Kaifa yang menjadi dasar berbagai percobaan Joko – termasuk dalam menciptakan biocip – diambil dari rangkaian ayat-ayat suci Al Qur’an. Sulit bagi orang lain untuk mengetahui persis apa dan bagaimana Teori Kaifa, karena Joko sendiri lagi-lagi menyebut hal ini sebagai “rahasia perusahaan”. “Laboratorium” tempat anak-anaknya bekerja dan jeroan utama biocip pun dilabelinya
“rahasia perusahaan”.

Makanya, Joko tak pernah khawatir, meski temuan biochipnya sampai saat ini belum dipatenkan. “Kalau ada orang yang mau tahu apa isinya, silakan saja dibongkar. Tapi terbuat dari apa bahannya, ‘kan dia belum tentu tahu,” yakinnya.

Ida Saraswati mengamini masih banyaknya
“rahasia perusahaan”, “rahasia ilmu pengetahuan” atau apa pun namanya yang belum dikurasnya dari otak sang bapak, yang dia juluki “sumur tanpa dasar”. Itu sebabnya, ia dengan sadar memilih meninggalkan bangku SMA. “Di sekolah, yang diajarkan itu-itu saja. Tapi kalau pelajaran dari bapak, di perguruan tinggi pun belum tentu ada,” bilang Ida.

Berkat bapaknya, Ida yang dulu “buta komputer” jadi bisa bikin software. Keahlian itu didapatnya, pertama-tama dengan mencontoh sang bapak. Setelah itu, baru ia diajari fungsi-fungsinya. “Bapak mengajari kami sesuai kebutuhan,” Ida buka kartu. Contohnya, “Ketika saya ingin dia bisa membuat EEG (alat pemeriksa otak), saya beri contoh dulu cara bikin EEG. Tidak semuanya saya contohkan, tapi ada soal-soal yang harus juga dia pecahkan,” kali ini Joko angkat bicara.

“Saya punya perkiraan, sekian bulan dia sudah harus bisa membuat EEG sendiri. Itu artinya, tanpa menjadi doktor atau profesor, dia sudah menjadi pembuat EEG yang andal.” Semuanya dimulai dari hilir, alias “akhir riset”. Setelah itu, materi-materi yang terlewati (sesuai tingkat pendidikan Ida) “ditarik” ke hulu, agar Ida tahu fungsi dan kerja tiap bagian. Sampai ilmunya nyambung dan bersua dengan logika. Bayangkan jika proses penciptaan EEG itu dimulai dari dasar, pasti akan banyak waktu terbuang.

Efisiensi juga diterapkan Joko dalam mengatur waktu “kerja” dan belajar anak-anaknya. Setelah bangun tidur, salat Subuh dan mengaji, Ida dan adik-adiknya belajar bersama mulai pukul 08.00. Di sesi ini, Joko memberi pengarahan dan sedikit teori. Setelah itu, mereka memetik sayur-sayuran dan buah-buahan untuk dimakan maupun diolah jadi bahan lain, minyak misalnya. Pukul 10.00, mereka sudah siap bekerja di “laboratorium”.

Sehabis salat Dzuhur, mereka kembali masuk lab, sampai saat salat Asar tiba. Waktu antara Asar dan Maghrib merupakan saat-saat untuk menghilangkan penat. Biasanya diisi dengan acara bebas. Seusai shalat Maghrib, mereka kembali memperdalam teori. Sampai akhirnya, setelah salat Isya, rutinitas itu berakhir. “Begitu terus, dari Senin sampai Sabtu,” aku Ida, sambil sesekali memainkan ujung jilbab dengan jari tangannya.

Takut kehilangan teman

Sebagai peneliti muda, jika boleh disebut begitu, Ida tak memungkiri adanya kendala psikologis saat meninggalkan bangku sekolah, sekitar lima tahun lalu. “Saya sedih, takut enggak punya teman,” ucapnya jujur. “Tapi sekarang enggak lagi. Terutama setelah jam belajar di rumah dikurangi dari 12 jam menjadi 8 jam, saya punya waktu untuk main dan berorganisasi. Sekarang teman saya sudah banyak lagi,” tambahnya.

Kadang, rasa malas juga datang. Akibatnya, target pekerjaan yang diberikan sang bapak tak tercapai. “Bapak sih enggak marah, tapi biasanya malah ikut bantu.” Ida mengaku, “Saya dan adik-adik sebetulnya tipe pemberontak. Kalau disuruh sesuatu tanpa alasan yang jelas, belum tentu mau menurut.” Begitu juga pas diberi pilihan terus atau meninggalkan bangku sekolah, Ida dan adik-adiknya tidak langsung mengangguk. “Kami mikir cukup lama,” kenangnya.

Ida mengaku jarang bersitegang dengan bapaknya. “Paling diem-dieman, gitu. Setelah itu, biasanya bapak duluan yang ngajak baikan. Mungkin saya paling sering berantem sama adik-adik,” ia mengulum senyum. “Ya, cuma soal kecil, seperti pembagian tugas ngebersihin rumah,” sambungnya. Terlihat jelas tanda-tanda kebahagiaan di matanya, ketika bercerita tentang bapak dan adik-adiknya yang “bandel”.

Ya, keluarga Joko Sasmito mungkin tak “mengenal” metode homeschooling dan sejenisnya. Tapi dengan cara mereka sendiri, mereka mengeritik kemapanan, bahwa ijazah cuma formalitas. Kalau tantangannya hidup di masa depan, anak-anak harus mempunyai kemampuan. Kemampuan yang memungkinkannya menghidupi diri sendiri dan membantu orang lain. (muhammad sulhi)

Hanya di Indonesia 

Ilmu pengetahuan mampu menjelaskan hal-hal yang semula dianggap tak mungkin menjadi mungkin. Melalui ilmu pengetahuan pula Joko Sasmito berhasil menciptakan biochip, yang dalam perkembangannya sangat bermanfaat bagi dunia kedokteran. Semua berawal dari Siklus Kaifa.

Sejumlah produk teknologi yang bermanfaat untuk kesehatan telah dibuatnya bersama kelima anaknya. Alat-alat ini antara lain pengetes gelombang otak, pengetes emosi diri, pengetes penyakit kanker getah bening dan kanker hati, magnetic resonance imaging (MRI), alat pemeriksa saraf, otot, dan jantung, serta modem.

Produk yang disebut terakhir ini belakangan direncanakan untuk diproduksi dalam jumlah lebih banyak. Produk ini sendiri merupakan hasil penelitian selama delapan tahun oleh keluarga Joko bersama sejumlah tetangga yang tergabung dalam santri Isiteks (Islam Teknologi dan Seni) di Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Penemuan-penemuan teknologi di bidang kedokteran ini sebenarnya bukanlah tujuan awal Joko. Mantan Dosen Kimia di Universitas Gadjah Mada ini bersama sejumlah santri semula bermaksud menciptakan alat-alat elektronik mini yang dapat menghemat ruang.

Dalam perkembangan kegiatan penelitiannya, Joko malah lebih dulu berhasil menciptakan biochip sebagai alat pengetes kesehatan tubuh, yang sangat bermanfaat di bidang kedokteran, serta biochip sebagai alat terapi.

Biochip adalah benda organik sebagai materi inti. Ramuan dari sari hewan dan tumbuhan ini diracik hingga menjadi hanya seberat kurang dari satu gram, lalu dilekatkan pada lempengan kecil kawat, dan disambungkan oleh media penghantar berupa lembaran-lembaran kabel. Alat ini berbeda dengan biochip-biochip lain yang, meski juga dibuat sebagai hasil teknologi, bahan utamanya dari anorganik.

Pada setiap kegiatan pengecekan dan terapi kesehatan terhadap pasien-pasiennya, Joko mentransfer materi inti pengobatan ini lewat gelombang (udara maupun listrik), disalurkan ke tubuh penderita.

Hantaran energi melalui gelombang ini pada tahap berikutnya, memampukan Joko mengobati pasien secara jarak jauh. Dengan menggunakan telepon biasa ataupun seluler, pengobatan yang berpusat dalam sistem komputer di rumahnya akan dihantar masuk ke pasien melalui gelombang.

”Saya berpikir bahwa ilmu dapat dimanfaatkan seluas-luasnya. Dan, bentuk pengobatan ini sangat dapat dijelaskan secara ilmiah,” tuturnya.

Empat dalil
Kita mungkin akan tak percaya bagaimana terapi biochip yang ditransfer lewat gelombang bisa menyembuhkan seseorang. Namun, Joko dapat menjelaskan secara ilmiah atas setiap produk temuannya.

Teori Siklus Kaifa menjadi dasar untuk setiap penemuan ini. Siklus ini mengacu pada salah satu ayat dalam sebuah surat di Al Quran. Ayat ini diterjemahkan menjadi empat dalil, yaitu adaptasi, filter, kecocokan, dan nilai integrasi. Setiap uji coba yang dilakukannya melalui empat dalil tersebut dan akhirnya menghasilkan karya chip non-bio. Namun, dalam perkembangannya, dia mengkreasikan chip dengan racikan bahan-bahan organik.

Tujuan Joko adalah supaya racikan bahan biochip ini tidak dapat ditiru tanpa harus dipatenkan. Kelebihan biochip ini adalah memiliki kepekaan lebih tinggi dalam mendeteksi suatu penyakit.

Joko mendidik lima anaknya untuk menjadi peneliti sekaligus penemu di bidang iptek meski mereka harus keluar dari sekolah formal. Ida Saraswati (23), anak pertama, kini telah membuat banyak perangkat lunak atau software dan Dika Sistrandari (21), Agus Siklawida (16) serta Tifa Siklawati (11) sebagai pembuat komponen data atau hardware. Adapun kemampuan membuat biochip diturunkan kepada anak ketiganya, Sikla Estiningsih (19).

Menurut Joko, merupakan pergumulan besar saat harus memberi pilihan bagi anak-anaknya untuk bersekolah formal atau belajar padanya. Saat anak-anak ini memutuskan untuk belajar pada Joko dan keluar dari sekolah masing-masing, tumbuh kesadaran akan konsekuensi bahwa kelimanya takkan memiliki ijazah pendidikan. ”Memang ada konsekuensi atas setiap pilihan,” tutur Sikla, anak ketiga.

Saat Kompas berkunjung kedua kalinya, sekira pertengahan bulan Januari, Joko tengah sibuk mengurusi salah seorang pasiennya yang sakit kritis. Hasil identifikasi biochip yang terpampang lewat komputer menunjukkan pasien tersebut mengidap penyakit kanker hati.

Komputer lainnya dipakai mendeteksi gerak jantung yang melambat, juga melalui biochip. Lalu, sebuah biochip lagi dipasang untuk menurunkan tingkat entropi (kerentaan fungsi organ). ”Kalau sudah kondisi darurat, kami harus gerak cepat menolong pasien,” tuturnya.(Irma Tambunan, Kompas, 27 Januari 2006)

Teknologi Alquran

Sekitar seribu tahun lalu lahir seorang tokoh yang kemudian menjadi pionir dalam bidang kedokteran modern. Namanya Ibnu Sina. Di Barat tokoh ini lebih dikenal dengan nama Avicenna. Ia bukan saja ahli mengobati berbagai penyakit, tapi juga seorang filsuf Islam yang sangat terkenal. Nah, kini dari Bantul Yogyakarta telah muncul Ibnu Sina yang lain. Namanya Djaka Sasmita, seorang ilmuwan jenius yang rendah hati tapi juga mahir mengobati berbagai penyakit.

Sebagai ilmuwan, Djaka berhasil menelorkan karya-karya inovatif yang bermanfaat bagi kepentingan orang banyak. Sebagai “dokter”, ia telah berhasil menyembuhkan ribuah orang. Dalam mengobati penyakit, Djaka menggunakan metode terapi Gelombang Non Elektro Magnetik (GNEM). Gelombang ini dipancarkan dari komputer yang programnya dirancang sendiri oleh Djaka, demikian panggilan akrabnya. Dengan metode ini suatu penyakit dapat dideteksi secara lebih dini dan sangat akurat, sekaligus memberikan terapi secara tepat tanpa akibat samping.

Seorang bernama Bieke Rubindra setelah diperiksa dengan GNEM terdeteksi mengindap penyakit hipertiroid dan kanker getah bening. Karena tidak merasa ada keluhan, ia tak percaya. Dua tahun kemudian ia sakit dan setelah diperiksa di laboratorium medis, ia dinyatakan sakit kanker getah bening. Terbukti, GNEM mampu mendeteksi penyakit 2 tahun lebih cepat.

Dr Justiar Gunawan dari BPPT, anaknya terserang kanker otak dan leukemia. Dokter sudah angkat tangan. Kini berobat ke Djaka, keadaannya berangsung-angsur membaik. Tinggal terapi lewat telpon saja, katanya. Masih ada cerita lain. Amaliyah Madiyan, dokter sekaligus dosen di Fakultas Kedokteran UGM ini terserang penyakit jantung. Akibatnya, ia merasa cepat letih. Kemudian ikut terapi di Isiteks (klinik kesehatan milik Djaka) selama 25 menit. Hasilnya, setelah ikut terapi 4 kali, kini penyakit jantung sembuh dan ia merasa segar kembali.

Anak Jenius Djaka Sasmita adalah anak keempat dari Djogo Pertiwi (alm), seorang juru kunci makam raja-raja Mataram Imogiri Bantul Yogyakarta. Terlahir 47 tahun lalu, Djaka kecil menempuh pendidikan SD dan SMP di Imogiri, lalu SMA diBantul. Begitu lulus ia kemudian melanjutkan kuliah di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM) jurusan Kimia. Dasar anak cerdas, sejak sekolah dasar Djaka selalu meraih juara, bahkan sewaktu kuliah sempat lompat dari tingkat pertama langsung ke tingkat tiga. Sebuah prestasi yang hanya dimiliki tiga dari ribuan mahasiswa seangkatannya di almamaternya. Ia memang mempunyai kecerdasan di atas teman-teman yang lain, kata Sabirin Mastjeh, kawan kuliah Djaka. Namun justru sejak kenaikan tingkat itu ia didera kegelisahan. Djaka tidak menemukan apa yang dicarinya. Belajar di perguruan tinggi baginya hanya membuang waktu. Sebab, yang dipelajari hal-hal yang tidak praktis dan menjemukan. Hukum-hukum yang diajarkan di kampus menurutnya tidak kuat dan banyak kelemahan. Djaka merasa tak bakal mencapai cita-citanya sebagai penemu yang dapat memberi sumbangan bagi dunia pengetahuan, apabila terus berkutat dengan kuliahnya. Djaka pun jadi malas kuliah dan memilih sibuk melakukan penelitian-penelitian sendiri. Hanya atas saran orang tua dan beberapa pihak, Djaka bersedia melanjutkan kuliahnya. Tetapi belum lagi lulus, ia sudah diminta mengajar di almamaternya. Bahkan pada tahun l977 oleh ketua program Matematika, Djaka diminta mengajar para dosen Matematika, Fisika dan Kimia. Uniknya, tiga tahun kemudian Djaka baru meraih gelar sarjana. Gelar doktornya diselesaikan di Belanda, yakni di bidang Thermodinamika di Universitas Utrecht (Belanda), tempat di mana Aristoteles pernah belajar. Di Utrecht Djaka lebih banyak mengikuti berbagai seminar dan diskusi ketimbang kuliah di ruang kelas. Di situlah ia memaparkan teori- teori temuannya. Mulanya banyak ilmuwan menentangnya. Namun setelah Djaka sedikit menjelaskan, mereka bisa menerima. Bisa jadi, itu karena mereka tidak mampu mematahkan teori-teorinya Djaka. Termasuk salah seorang profesor pembimbingnya sendiri akhirnya menyerah .” Ilmu saya tidak cukup untuk mengajari Anda, sayalah yang harus belajar pada Anda” , kata Sang Profesor. Praktis Djaka tidak banyak mengikuti kuliah selama di Belanda. Dia hanya menghabiskan waktunya untuk belajar sendiri dan berkunjung ke berbagai perpustakaan. Di sinilah Djaka menemukan sebagian dari khazanah keilmuan Islam jaman dulu yang dicuri orang-orang Barat. Di perpustakaan Elschecunde yang terletak di jalan Padualan, ada beberapa karya ilmuwan Muslim dalam tulisan aslinya, kenangnya. Dari situ pula Djaka mengetahui bahwa dalil sinus cosinus itu penemunya adalah ilmuwan Muslim.

Dalam mengembangkan ilmunya kemudian, Djaka merasa cukup dengan al- Qur an saja. Al-Quran ini sudah lengkap kandungannya, tinggal kita baca, tambang dan olah saja , kata Djaka yang pernah nyantri di salah satu pesantren di Jawa Timur itu. Hal ini dibuktikannya, misalnya pada ayat nuurun alaa nuurin yang artinya cahaya di atas cahaya dipahaminya bahwa cahaya itu bertingkat- tingkat. Berdasarkan ayat ini, Djaka berhasil meracik berbagai peralatan medis yang memiliki kecepatan berlipat dibanding yang sudah ada. Misalnya Alat Laju Endap Darah (LED), dapat bekerja sepuluh kali lebih cepat dari peralatan biasa dengan kemampuan periksa hingga 64 pasien sekaligus. Temuan lainnya adalah alat test DNA yang di rumah sakit bisa memakan waktu beberapa hari, di klinik Djaka cukup dengan waktu setengah menit saja. Untuk menularkan ilmunya, pada tahun 1992 Djaka mendirikan Pesantren Terpadu ISITEKS (Islam, Ilmu, Teknologi dan Seni). Misinya memberikan bekal Islam, ilmu, teknologi dan seni yang handal bagi para santrinya. Mottonya, mengejar IPTEK bersumber dari al-Qur an . Ini memang bukan pesantren biasa, sebab kebanyakan santrinya adalah ilmuwan dari berbagai disiplin bidang ilmu seperti kedokteran, komputer, biologi, pertanian, kimia, fisika dan lainnya. Karena itu di ISITEKS ada beberapa pusat kajian. Misalnya seperti Pusat Kajian Kimia, Pusat Kajian Biologi, Pusat Kajian Teknologi Komputer, Pusat Kajian Kesehatan dll. Sebulan sekali, para santri Djaka datang untuk melakukan temu bidang multi disipliner. Masing-masing mengungkapkan perkembangan penelitian mereka dan Djaka memberikan arahan-arahan atau menunjukkan ketika seorang santri mengalami kebuntuan dalam penelitiannya. Kadangkala terjadi diskusi antar bidang dan Djaka menjembatani gap antar mereka dan menjadi penengahnya sehingga tak jarang berhasil memadukan beberapa penemuan. Beberapa santrinya kini telah menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Misalnya, Tebu Rendemen Tinggi. Bermula dari permintaan seorang kepala pabrik gula yang mengeluh rendahnya rendemen tebu (6%). Maka Pusat Penelitian Pertanian ISITEKS meneliti dan akhirnya menghasilkan benih tebu yang tak berbunga sehingga mampu menghasilkan rendemen tinggi hingga 24%. Hebatnya, penanamannya tak perlu dengan mencangkul dan memupuk. Cukup ditebar, dia akan tumbuh subur. Penemuan lain adalah alat Laju Endap Darah (LED). Dr Nur Asikin, seorang dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, di bawah bimbingan Djaka berhasil menemukan alat yang memiliki kecepatan 10 kali lipat dari alat yang sudah ada yakni dari 120 menit menjadi hanya 10 menit. Alat ini juga dapat digunakan sekaligus untuk 64 pasien.

Tentu saja dengan beberapa keberhasilan itu, mengundang banyak orang untuk menjadi santri. Tapi hanya sedikit yang diterima. “Saya ingin memastikan bahwa para santri belajar dengan niat yang ikhlas untuk memberikan sumbangan pengetahuan dan teknologi yang bermanfaat untuk ummat. Saya ingin menjaga supaya aktifitas penelitian yang ada tidak dikotori oleh amal yang tidak shalih”. tegas Djaka. Pernah ada tawaran untuk menjadikan ISITEKS menjadi sebuah proyek pendidikan dengan menjanjikan dana ratusan juta rupiah, namun ditolak oleh Djaka. Karena saya melihat ada kepentingan materi di dalamnya katanya. Lebih baik sedikit tapi halal, kata Djaka seraya menambahkan bahwa apa yang dilakukannya lebih pada pertimbangan akhirat.

Kecewa dengan Pendidikan Menurut Djaka, pendidikan sebaiknya diselenggarakan untuk menjawab permasalahan di masyarakat dan memperhatikan tujuan pokoknya, yakni mau dijadikan apa dan untuk bisa apa sang siswa. Tentu saja tanpa mengabaikan ilmu-ilmu pendukung. Dengan demikian penyelenggaraan pendidikannya dapat lebih terpilih. Artinya, pelajaran yang diberikan adalah yang sesuai dengan minat setiap siswa dan kebutuhan masyarakat. Sehingga tak ada pelajaran yang diulang-ulang dan tidak terpakai di kemudian hari seperti yang banyak terjadi kini. Yang menjadikan bangsa kita mundur adalah karena kita sering belajar hal-hal yang sebenarnya tidak perlu, kata Djaka. Atas dasar itulah, Djaka kemudian menarik keluar Ida Saraswati, putri pertamanya dari SMU Negeri. Putrinya itu kemudian dididik sendiri. Demikian juga dua adiknya. Hasilnya, enam bulan setelah keluar dari sekolah, Ida sudah bisa membuat alat pemeriksa gelombang otak atau EEG (Electro Encepalography). Sekarang, di usianya yang masih 19 tahun, Ida sudah pintar membuat chip komputer, dari komponen dasarnya sampai menjadi IC. Sementara bahasa programnya diracik oleh adiknya, Sikla Istiningsih (16) dan miniaturisasinya dikerjakan oleh anak ketiga, Dika Sistrandari (14). Apabila sekolah di luar, sampai lulus doktor pun belum tentu dia bisa membuat alat-alat tersebut, tandas Djaka meyakinkan, tanpa kesan bangga diri.

Kedokteran Nuklir

Ilmu Kedokteran Nuklir adalah cabang ilmu kedokteran yang menggunakan sumber radiasi terbuka berasal dari disintegrasi inti radionuklida buatan, untuk mempelajari perubahan fisiologi, anatomi dan biokimia, sehingga dapat digunakan untuk tujuan diagnostik, terapi dan penelitian kedokteran. Pada kedokteran Nuklir, radioisotop dapat dimasukkan ke dalam tubuh pasien (studi invivo) maupun hanya direaksikan saja dengan bahan biologis antara lain darah, cairan lambung, urine da sebagainya, yang diambil dari tubuh pasien yang lebih dikenal sebagai studi in-vitro (dalam gelas percobaan).

Pada studi in-vivo, setelah radioisotop dapat dimasukkan ke dalam tubuh pasien melalui mulut atau suntikan atau dihirup lewat hidung dan sebagainya maka informasi yang dapat diperoleh dari pasien dapat berupa:

  1. Citra atau gambar dari organ atau bagian tubuh pasien yang dapat diperoleh dengan bantuan peralatan yang disebut kamera gamma ataupun kamera positron (teknik imaging)
  2. Kurva-kurva kinetika radioisotop dalam organ atau bagian tubuh tertentu dan angka-angka yang menggambarkan akumulasi radioisotop dalam organ atau bagian tubuh tertentu disamping citra atau gambar yang diperoleh dengan kamera gamma atau kamera positron.
  3. Radioaktivitas yang terdapat dalam contoh bahan biologis (darah, urine dsb) yang diambil dari tubuh pasien, dicacah dengan instrumen yang dirangkaikan pada detektor radiasi (teknik non-imaging).

Data yang diperoleh baik dengan teknik imaging maupun non-imaging memberikan informasi mengenai fungsi organ yang diperiksa. Pencitraan (imaging) pada kedokteran nuklir dalam beberapa hal berbeda dengan pencitraan dalam radiologi.

Pada studi in-vitro, dari tubuh pasien diambil sejumlah tertentu bahan biologis misalnya 1 ml darah. Cuplikan bahan biologis tersebut kemudian direaksikan dengan suatu zat yang telah ditandai dengan radioisotop. Pemeriksaannya dilakukan dengan bantuan detektor radiasi gamma yang dirangkai dengan suatu sistem instrumentasi. Studi semacam ini biasanya dilakukan untuk mengetahui kandungan hormon-hormon tertentu dalam darah pasien seperti insulin, tiroksin dll.

Pemeriksaan kedokteran nuklir banyak membantu dalam menunjang diagnosis berbagai penyakitseperti penyakit jantung koroner, penyakit kelenjar gondok, gangguan fungsi ginjal, menentukan tahapan penyakit kanker dengan mendeteksi penyebarannya pada tulang, mendeteksi pendarahan pada saluran pencernaan makanan dan menentukan lokasinya, serta masih banyak lagi yang dapat diperoleh dari diagnosis dengan penerapan teknologi nuklir yang pada saat ini berkembang pesat.

Disamping membantu penetapan diagnosis, kedokteran nuklir juga berperanan dalam terapi-terapi penyakit tertentu, misalnya kanker kelenjar gondok, hiperfungsi kelenjar gondok yang membandel terhadap pemberian obat-obatan non radiasi, keganasan sel darah merah, inflamasi (peradangan)sendi yang sulit dikendalikan dengan menggunakan terapi obat-obatan biasa. Bila untuk keperluan diagnosis, radioisotop diberikan dalam dosis yang sangat kecil, maka dalam terapi radioisotop sengaja diberikan dalam dosis yang besar terutama dalam pengobatan terhadap jaringan kanker dengan tujuan untuk melenyapkan sel-sel yang menyusun jaringan kanker itu.

Di Indonesia, kedokteran nuklir diperkenalkan pada akhir tahun 1960an, yaitu setelah reaktor atom Indonesia yang pertama mulai dioperasikan di Bandung. Beberapa tenaga ahli Indonesia dibantu oleh tenaga ahli dari luar negeri merintis pendirian suatu unit kedokteran nuklir di Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknik Nuklir di Bandung. Unit ini merupakan cikal bakal Unit Kedokteran Nuklir RSU Hasan Sadikin, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Menyusul kemudian unit-unit berikutnya di Jakarta (RSCM, RSPP, RS Gatot Subroto) dan di Surabaya (RS Sutomo). Pada tahun 1980-an didirikan unit-unit kedokteran nuklir berikutnya di RS sardjito (Yogyakarta) RS Kariadi (Semarang), RS Jantung harapan Kita (Jakarta) dan RS Fatmawati (Jakarta). Dewasa ini di Indonesia terdapat 15 rumah sakit yang melakukan pelayanan kedokteran nuklir dengan menggunakan kamera gamma, di samping masih terdapat 2 buah rumah sakit lagi yang hanya mengoperasikan alat penatah ginjal yang lebih dikenal dengan nama Renograf

PEMANFAATAN TEKNIK NUKLIR DI LUAR KEDOKTERAN NUKLIR

Di luar kedokteran nuklir, teknik nuklir masih banyak memberikan sumbangan yang besar bagi kedokteran serta kesehatan, misalnya:

1. TEKNIK PENGAKTIVAN NEUTRON

Teknik nuklir ini dapat digunakan untuk menentukan kandungan mineral tubuh terutama untuk unsur-unsur yang terdapat dalam tubuh dengan jumlah yang sangat kecil (Co,Cr,F,Fe,Mn,Se,Si,V,Zn dsb) sehingga sulit ditentukan dengan metoda konvensional. Kelebihan teknik ini terletak pada sifatnya yang tidak merusak dan kepekaannya sangat tinggi. Di sini contoh bahan biologik yang akan idperiksa ditembaki dengan neutron.

2. PENENTUAN KERAPATAN TULANG DENGAN BONE DENSITOMETER

Pengukuran kerapatan tulang dilakukan dengan cara menyinari tulang dengan radiasi gamma atau sinar-x. Berdasarkan banyaknya radiasi gamma atau sinar-x yang diserap oleh tulang yang diperiksa maka dapat ditentukan konsentrasi mineral kalsium dalam tulang. Perhitungan dilakukan oleh komputer yang dipasang pada alat bone densitometer tersebut. Teknik ini bermanfaat untuk membantu mendiagnosiskekeroposan tulang (osteoporosis) yang sering menyerang wanita pada usia menopause (matihaid) sehingga menyebabkan tulang muda patah.

3.THREE DIMENSIONAL CONFORMAL RADIOTHERAPHY (3D-CRT)

Terapi Radiasi dengan menggunakan sumber radiasi tertutup atau pesawat pembangkit radiasi telah lama dikenal untuk pengobatan penyakit kanker. Perkembangan teknik elektronika maju dan peralatan komputer canggih dalam dua dekade ini telah membawa perkembangan pesat dalam teknologi radioterapi. Dengan menggunakan pesawat pemercepat partikel generasi terakhir telah dimungkinkan untuk melakukan radioterapi kanker dengan sangat presisi dan tingkat keselamatan yang tinggi melalui kemampuannya yang sangat selektif untuk membatasi bentuk jaringan tumor yang akan dikenai radiasi, memformulasikan serta memberikan paparan radiasi dengan dosis yang tepat pada target. Dengan memanfaatkan teknologi 3D-CRT ini sejak tahun 1985 telah berkembang metoda pembedahan dengan menggunakan radiasi pengion sebagai pisau bedahnya (gamma knife). Dengan teknik ini kasus-kasus tumor ganas yang sulit dijangkau dengan pisau bedah konvensional menjadi dapat diatasi dengan baik oleh pisau gamma ini, bahkan tanpa perlu membuka kulit pasien dan yang terpenting tanpa merusak jaringan di luar target

Sumber: http://terapinuklir.wordpress.com/

Arsip: http://tech.groups.yahoo.com/group/kabiogama_pusat/message/1839

Re: [kabiogama_pusat] COPY JARINGAN TUBUH
“Saya sendiri berharap Mas Harry dapat datang ke Isiteks. Tetapi jangan kecewa dengan bentuk Lab beliau atau rumah terapi milik beliau (P. Joko). Rumahnya sangat sederhana, jauh dari kesan rumah dengan hight technology di dalamnya.”

Yup, mas Agung, minta alamat lengkapnya, sepertinya gak jauh dari rumah di Bantul, insya4JJI ntar pas mudik lebaran bisa melihat langsung. Tapi klo menjadi jamaahnya agak susah, secara sekarang sy berdomisili di Bogor-Jakarta, kecuali bisa via YM, Skype, ato VOIP he he he…
jujur aja, jadi penasaran setelah mendapat penjelasan lebih lanjut dari mas Agung.

“Memang benar agak membingungkan, karena DNA merupakan software tapi sekaligus hardware. Ternyata proses pencopyan software DNA dari organ yang baik (berwujud gelombang) bisa tercopy dan selanjutnya menjadi hardware di bagian target.  Dengan adanya hardware DNA yang baru (perbaikan dari hardware DNA yang rusak) di bagian tubuh yang rusak maka selanjutnya akan tersekspresi organ yang kembali baik/sehat.”

saya kurang sependapat dengan kalimat diatas, karena pada prinsipnya DNA kita yg konon panjangnya 3 Milyar pasangan basa itu sudah paten struktur maupun urutan/sequence-nya kecuali bila terjadi mutasi dsb. Penjelasan detil hal ini bisa dibaca di buku karangan Kazuo Murakami Ph.D (The Divine Message of The DNA), intinya sebenarnya urutan DNA itu sudah fix sejak kita lahir, hanya saja yg menentukan ekpresi dari DNA (Transkripsi, Translasi dst.) ada suatu sistem On/Off yg bisa juga dipengaruhi oleh lingkungan bahkan ada yg berhipotesa bahwa kekuatan pikiran/psikologis juga dapat mempengaruhi sistem ini. Wallahu’alam..
jadi menurut saya, mungkin teknologi yg dikemukakan oleh Mas Agung ini lebih berperan pada “me-switch Off ekspresi gen yg bersifat buruk (yg membuat sakit) & me-switch On ekspresi gen yg bersifat baik (seperti aslinya/fungsinya).
maaf klo jadi panjang… ^_^, tapi topik ini mmg bnr2 menarik buat dibahas & didiskusikan lbh lanjut..

2008/8/27 agung budi <agung_biouad@…>

Memang benar agak membingungkan, karena DNA merupakan software tapi sekaligus hardware. Kemarin saya coba menanyakan kepada Pak Hakim (Asisten/santri P. Joko Sasmito) tentang hal tersebut. Ternyata proses pencopyan software DNA dari organ yang baik (berwujud gelombang) bisa tercopy dan selanjutnya menjadi hardware di bagian target.  Dengan adanya hardware DNA yang baru (perbaikan dari hardware DNA yang rusak) di bagian tubuh yang rusak maka selanjutnya akan tersekspresi organ yang kembali baik/sehat. Proses ekspresi ini ada yang cepat (menit) tetapi juga ada yang lama (bulan).Pak hakim juga bercerita, pernah ada rekanan pak Joko yang masuk ke ruang yang beradiasi tinggi sehingga pola DNAnya berubah, akibatnya tubuhnya lemas. diperiksakan ke dokter tetapi tidak terdeteksi penyakitnya. Untungnya Orang tersebut pernah mendaftarkan DNA ke biochipnya P. Joko. Dengan software DNA yang tersimpan di data biochip maka selanjutnya dapat dicopy untuk memperbaiki pola DNA yang berubah sehingga DNAnya kembali sprti semula.Copy ini sendiri berawal ketika Dr. Joko Sasmito mengkopi sel kulit kaki ke permukaan tangan (punggung tangan). Setelah proses copy selesai maka terlihat bagian punggung tangan Dr. joko menjadi kuning seperti warna kulit kakinya, setelah beberapa waktu maka rambut di pungung tangan Dr. Joko tumbuh seperti rambut di kaki (lebih lebat dan gede).

Sebenarnya ada beberapa dokter di RS Sarjito yang sudah mengetahui sepak terjang beliau di dunia pengobatan (misal dr. Ngadikun). Bahkan ada seorang dokter penyakit dalam berkomentar, proses copy ini merupakan proses kloning jaringan tubuh yang sangat maju.Saya sendiri berharap Mas Harry dapat datang ke Isiteks. Tetapi jangan kecewa dengan bentuk Lab beliau atau rumah terapi milik beliau (P. Joko). Rumahnya sangat sederhana, jauh dari kesan rumah dengan hight technology di dalamnya.Terapi gelombang nuklear dibuka setiap hari senin, rabu, kamis dan sabtu mulai pukul 13.00 – 15.00. Untuk tiap terapi nuklear selama 20 menit seharga 336 ribu.

Tambahan : Tiap Bulan Dr. Joko menginfakkan sekitar 6 juta untuk jamaahnya, dan juga memberikan fasilitas terapi nuklir gratis bagi jamaahnya (dengan syarat : kedatangan jamaah sholat dengan jumlah tertentu). Presensi sekarang menggunakan Nada suara, misal No Jamaah Saya 324 maka saya harus bersuara mi, re, fa ke laptop presensi. Jika nada suara saya sumbang atau tidak sesuai maka nomor saya tidak masuk (bisa diganti dengan alternatif mejet tombol). Keuntungan Pake nada suara, bisa terapi gratis nuklir 2 kali drpd yang mejet tombol. Dr Joko kadang mengadakan lomba untuk para jamaahnya, yaitu siapa yang sekali mencoba (bersuara) dan nomor jamaahnya bisa masuk ke data laptop maka akan dihadiahi Rp. 50 ribu. Kemarin (selasa) hadiahnya minyak goreng. Jika nomor jamaah masuk ke laptop dengan suara berhasil maka secara otomatis laptop akan mengkode mesin pompa air akuarium untuk memompa minyak goreng dalam jumlah tertentu ke wadah. Jadi yang nadanya sumbang atau tidak pas /di layar akan muncul angka nada atau tanda s (sumbang) tidak akan dapat minyak. Prinsip ini yang akan dikembangkan oleh Dr. Joko menjadi alat pembaca fikiran. Jika kemarin dengan nada tertentu dan sesuai dengan nomor jamaah maka akan dapat mengkode pompa air akuarium untuk memompa minyak maka nantinya akan dikembangkan menjadi alat pembaca gelombang otak sehingga keinginan kita akan diterjemahkan ke dalam laptop beliau (dengan biochipnya). Setelah masuk biochip, misal fikirannya minta minyak maka biochip akan memerintahkan pompa air akuarium untuk memompa minyaknya.
Saat ini memang sudah ada teknologi membaca fikiran. Beberapa waktu yang lalu, saya melihat di TV ada alat pembaca fikiran yang dipasang ke kepala monyet. Jika monyet itu ingin makan pisang, maka robot yang tersambung dengan alat pembaca fikiran tersebut akan mengarahkan tangannya yang membawa pisang ke monyet.

—– Original Message —-
From: harry <harry.murti@…>
To: kabiogama_pusat@yahoogroups.com
Sent: Tuesday, August 26, 2008 3:09:51 PM
Subject: Re: [kabiogama_pusat] COPY JARINGAN TUBUH

Sama-sama, ini mas Agung’98 khan?
Kalo boleh urun rembug, saya masih sedikit “confused” dengan istilah “copy jaringan” yg dipakai dalam penjelasan mas Agung kemarin. Justru yang saya tangkap dari penjelasan mas Agung, seperti yg cuplikan ini “Untuk Copy jaringan, pada prinsipnya hanya mengkopi pola gelombang segmen DNA sebelah kanan ke sebelah kiri sehingga pola gelomabng yang rusak embali ke keadaan semula. jika gelomabng sudah seperti semula maka akan terekspresi organ yang baik (sembuh dari penyakit).” menurut saya ini bukan dikategorikan ke dalam “copy jaringan” karena prinsipnya sebenarnya berusaha memperbaiki pola gelombang yang salah. Jaringan masih tetap sama (orisinil) artinya tidak diganti yg baru. Sekedar usul gimana kalo istilahnya diganti “copy signal DNA sel” sepertinya lebih spesifik dan tidak membingungkan.lain halnya apabila kita mengisolasi sel punca (stem cell) dari individu yg sakit lalu dikultur in vitro, kemudian karena sel tsb “undifferentiate” maka masih dapat diarahkan/ diferensiasikan menjadi sel target yang sakit. Prinsip pengobatannya dapat dengan “cell theraphy” yang meliputi transplantasi sel atau dengan “cell replacement theraphy” yaitu sel yg sakit digantikan sel yg sehat tapi sejenis.Saya justru tertarik dengan potensi aplikasi teknologi ini untuk mengarahkan sel punca menjadi sel yg kita inginkan (sel target). Apabila berhasil, ini akan menjadi fenomenal, karena sampai sekarang para peneliti masih berlomba-lomba untuk mengarahkan sel punca menjadi sel-sel target seperti sel neuron, sel jantung, sel beta pankreas dsb. Mohon pencerahannya. ..
TerimakasihHarry
ex bio’00

2008/8/26 agung budi <agung_biouad@ yahoo.com>

Terimakasih atas tanggapan Mas Harry..
Sebenarnya siklus gelombang DNA tiap MH berbeda, tetapi frekuensinya bisa sama. Untuk memilah gelombang dengan frekuensi sama akan tetapi jika dilihat dari segi level kuantumnya beda memang memerlukan alat khusus (Chip).  Lewat  pembuluh darah (di luar pembuluh darah) dapat ditangkap gelombang tersebut. Sehingga jika kita  memasang alat penangkap gelombang di atas pembuluh  darah (di luar tubuh  kita) maka dapat  terdeteksi  gelombang  apa saja yang lewat.  Gelombang tersebut bisa gelombang DNA kita, DAN/RNA virus, DNA bakteri, bisa gelombang Hb, air, dll. Dari konsep tersebut maka deteksi kanker, TORCH, kadar gula, kadar Hb dapat terdeteksi. Sekarang di Isiteks sudah bisa mendeteksi 14 item untuk deteksi penyakit dini. Istri saya sendiri pernah Tes CMV (Cyto Megalo Virus) di Isiteks, hasilnya saya bandingkan di RS Sarjito dan ternyata sama (walaupun standar angkanya beda), yaitu standar CMV aktif RS sarjito > 0,090 maka hasil pemeriksaan istri saya 0,092 dan hasil dari Isiteks dengan standar aktif CMV > 412  maka angka pemeriksaan isteri saya 414. Silakan para biolog atau orang kedokteran menguji alat tersebut.
Catatan : Ada pasien yang terdetek terkena kanker rahim di Isiteks, tetapi di RS Sarjito tidak terdetek. Enam bulan kemudian diketahui ada kanker di rahim pasien tersebut dan menurut dokter sudah agak terlambat untuk ditangani.
—– Original Message —-
From: harry <harry.murti@ gmail.com>
To: kabiogama_pusat@ yahoogroups. com
Sent: Monday, August 25, 2008 10:05:40 AM
Subject: Re: [kabiogama_pusat] COPY JARINGAN TUBUH

Menarik sekali penjelasannya Mas Agung, saya sangat menunggu artikel ilmiah yg memuat penjelasan seperti ini, akan sangat membahagiakan apabila teknologi baru telah ditemukan dan potensial untuk mengobati penyakit yg belum ada obatnya. Kebetulan saya sedang berkecimpung di bidang regenerative medicine, jadi informasi ini dapat menambah khazanah keilmuwan, terimakasih.Warm Regards,Harry Murti

2008/8/23 agung budi <agung_biouad@ yahoo.com>

Sambungan copy jaringan :
DNA double helix dengan pasangan basa A-T atau G-C yang memanjang jika diterjemahkan dalam fisika maka dapat diperoleh bahwa DNA memiliki muatan tertentu yang memancarkan gelombang. Jadi gelombang pola tersebut yang dibaca, bukan urutan basa DNAnya. Ibarat kita ingin mengetahui ponsel yang sedang aktif di jogja, kita tidak harus mengetuk pintu atau mendatangi setiap orang yang punya HP untuk menanyakan apakah HP dia sedang aktif atau tidak. Kita tinggal mengakses data di pusat, misal indosat wilayah jogja kita sudah bisa melihat berapa HP yang sedang aktif plus kepunyaan siapa (hasil regristasi). Jadi yang dibaca bukan urutan basa DNAnya, tetapi pola gelombang yang terekspresi oleh urutan basa tertentu. Pada dasarnya setiap MH memiliki pola gelombang yang konstan (DNA stabil), jika pola gelombang tersebut berubah maka dapat dipastikan bahwa tubuh yang terekspresi oleh gelombang DNA tadi terganggu. Misal, akibat radiasi nuklear akibat BOM nuklear di Hiroshima dan Nagasaki 63 tahun silam maka terjadi gangguan pada pola gelombang tubuh. ekspresi yang terjadi ke organ adalah kerusakan organ (cacat). Prinsipnya : Jika ada pola gelombang yang berubah dikembalikan ke keadaan semula, maka ekspresi organ akan kembali seperti semula. semua itu level fisika kuantum. Jika kita ingin mengobati penyakit dalam tubuh kita (kanker, tumor, diabet, dll) maka kita harus mendaftarkan dulu DNA kita ke alat, kemudian pola gelombang akan terbaca jika ada pola yang nyleneh (adanya penyakit) akan terditeksi. Dengan nuklear tertentu (bukan dr uranium) maka pola tersebut dapat diterapi ke keadaan semula. Terapi pembenahan pola gelombang DNA tubuh kembali ke keadaan semula tergantung dari tingkat gangguan. Jika berat, perlu beberapa kali terapi nuklear. Untuk Copy jaringan, pada prinsipnya hanya mengkopi pola gelombang segmen DNA sebelah kanan ke sebelah kiri sehingga pola gelomabng yang rusak embali ke keadaan semula. jika gelomabng sudah seperti semula maka akan terekspresi organ yang baik (sembuh dari penyakit).
Posisi Ilmuan Biologi sekarang baru ibarat kita hanya sebatas mendatangi pintu ke pintu, orang ke orang untuk memperoleh  data HP yang sedang aktif. Jadi wajar jika sekarang teknologi terapi pengabatan lewat terapi gelombang nuklear untuk menstabilkan gelombang DNA dianggap klenik oleh sebagian masyarakat.
Kapan kita bisa berfikir secara global sehingga dapat menggabungkan ilmu biologi-fisika- kimia-matematika -kedokteran, sehingga nantinya bisa menyembuhkan penyakit lewat terapi gelombang nuklear???— On Fri, 8/22/08, agung budi <agung_biouad@ yahoo.com>wrote:

From: agung budi <agung_biouad@ yahoo.com>

Subject: Re: [kabiogama_pusat] COPY JARINGAN TUBUH

Date: Friday, August 22, 2008, 11:23 PM

Piye Kabare Mas JOE.. Anakku 2..
Tentang Copy Jaringan.. kebetulan pas 2 bulan aku ikut jama’ah di sana ada pasien dari Bandung (Bpk Endang) yang stroke shgg pembuluh darah salah satu matanya pecah. Oleh RSCM direkomendasikan u dicopot matanya karena matanya terus mengeluarkan darah, dikawatirkan membusuk n infeksi. Selama 2 bulan itu, Bpk Endang diterapi copy jaringan dari salah satu matanya yang masih baik (maaf aku lupa mana yg pecah pmblh darahnya dan mana yang masih baik). Dari ‘copy jaringan’ tersebut akhirnya matanya sembuh total.
Untuk teknologinya sendiri sy ‘ora ganduk’ karena melibatkan ilmu fisika nulklear n memakai biochip. Prinsipnya DNA yang dicopy harus sama (satu tubuh). klo beda tubuh tapi deket DNA sama seperti cangkok ginjal (bisa diterima tetapi sebagai benda asing). Ekspresi DNA sebenarnya yang dicopy. Itu penjelasanku sementara ini..
tentang detailnya.. silakan diskusi ama Dr. Joko Sasmito
—– Original Message —-
From: Arif Harsoyo <arifharsoyo@ gmail.com>
To: kabiogama_pusat@ yahoogroups. com
Sent: Saturday, August 16, 2008 6:40:19 PM
Subject: Re: [kabiogama_pusat] COPY JARINGAN TUBUH

iki agung jetis yo? piye gung anakmu? jare tambah meneh (jare v3 lo). pindah neng pajimatan to kuliahmu? tak kiro neng unsoed.gung, berhubung belum pada kesana, jadi ga boleh komentar to. la dalam asumsi saya, njenengan dah kesana, berarti boleh dong komentar ato memberi pandangan anda sebagai alumni fak bio and juga dosen biologi (mas agung ini dosen di uad). yo ben jelas ngunuw lo dab, ndak di kiro klenik.mas bowo, itu korbannya ryan cukup buat berapa wayang ya? ato amrozi sajalah jadikan wayang, hehehhe. sabtu depan ikut ga? katanya ada yang mau “pamer” keampuhan, sukses sampai dapet dari sebrang lautan

joe gja

2008/8/16 bowo nurcahyo <b2nurcahyo@yahoo. com>

wah hebat tuh, eh apa pondok pesantren itu ada hubungannya dengan DOSEN MIPA UGM yang DI DROP OUT itu, daerahnya ya pajimatan imogiri juga kan…..wah kalau itu biologi sebagai suatu institusi dan kabiogama sebagai suatu personal harus menindaklanjuti tuh, besok kalau saya ke banyusumurup imogiri, saya tak mampir, trus tak kabari deh.ada yang perlu analisis biologi lagi tuh.selasa kemarin saya diundang untuk melihat pagelaran wayang kulit di ISI oleh beberapa temen seniman dan budayawan. yang aneh sampai detik mau ditayangkan, sang dalang gak tau lakon yang akan dibawakan, tapi setelah ritual mendadak dia dapat ide.
bukan itu yang sebetulnya menggelitik hati saya, tapi kehadiran wayang kulit disitu, ternyata dari kulit manusia, dibuat pada abad ke 17 dan disimpan sebagai benda keramat di lereng merbabu.
nah, ketika saya tanya si peneliti wayang kulit (manusia), yang notabene pendekatan seni, ternyata sedang di test DNA…….kemana, dia bilang ke UGM tapi apakah ke fakultas biologi, nah kalau ke biologi apa hasilnya, kalau enggak…..kok bisa gak ke fakultas biologi (ada yang kurang ya dengan fakultas kebanggaan kita itu).saat ini sedang ada workshop internasional (kalau gak salah workshop ya), di jogja, tentang biologi molekuler dengan pendekatan seni, bisa dipastikan pesertanya adalah seniman semuanya dari berbagai negara, terutama eropa, ketika saya ikut satu kali di fakultas pertanian, saya jadi bingung, ternyata mikrobia punya nafsu dan keinginan untuk membuat suatu bentuk, nah loe……… ……bingung kan……… .saya ada kontak personnya kalau mau diskusi dengan mereka.tambah ilmu saya kok tambah ra dong ya………. ……… uedan tenan donyo iki.

AKP Bowo Nurcahyo
Forensic Laboratory Indonesian National Police

— On Fri, 8/15/08, Nurcholis, Akhmad <anurcholis@arutmin. com> wrote:

From: Nurcholis, Akhmad <anurcholis@arutmin. com>
Subject: RE: [kabiogama_pusat] COPY JARINGAN TUBUH

Date: Friday, August 15, 2008, 10:12 AM

Saya ndak komentar, tapi mau datang kesana dan membuktikan sendiri, tolong siapkan tiket pesawatnya Kotabaru-balik papan-Yogyakarta, akomodasinya sekalian ya, oh iya jangan lupa tiketnya PP.

From: kabiogama_pusat@ yahoogroups. com [mailto:kabiogama_ pusat@yahoogroup s.com] On Behalf Of agung budi

Sent: Friday, August 15, 2008 11:07 AM
To: kabiogama_pusat@ yahoogroups. com
Cc: agung_biouad@ yahoo.com
Subject: [kabiogama_pusat] COPY JARINGAN TUBUH
Assalamu’alaikum Wr.WbPenciptaan Manusia yang bilateral simestris ternyata juga sangat bermanfaat untuk teknologi copy jaringan tubuh. Misal, ketika kaki kanan kita patah karena kecelakaan maka dengan teknologi copy jaringan akan bisa sembuh (kembali seperti semula dengan cara mengcopy jaringan tulang dari kaki kiri).
Yang menjadi pertanyaan adalah : Apakah teknologi copy jaringan tubuh sudah ada di dunia ini ?Jawabannya : Ya, sudah ada.Sebagai Ilmuan maka Anda WAJIB tidak percaya sebelum membuktikan dengan fakta. Jangan memberi komentar dahulu sebelum melihat dengan mata kepala sendiri fakta yang terjadi.
Teknologi copy Jaringan sudah dikembangkan di Pesantren Isiteks Pajimatan Imogiri. Silakan Anda datang untuk membuktikan dan sekali lagi : JANGAN memberi komentar sebelum datang ke sana dan membuktikan sendiri.Wassalamu’alaikum Wr.Wb.


“Tuk semua sahabat kala senang, susah dan semplah . . .
U’ll never be alone dab!!”

“Our sorrows will never be sad enough. Our joys never happy enough. Our dreams never big enough. Our lives never important enough. To matter.” (Chacko)


Harry Murti
Research Assistant
Stem Cell and Cancer Institute
Jl. Jend. Achmad Yani No.2 Pulo Mas, Jakarta Timur 13210, Indonesia.
www.sci-indonesia. org
Telp. +62-21-47860173; Fax. +62-21-47860180

Official email: hmurti@sci-indonesi a.org or harry.murti@ kalbe.co. id
***


Harry Murti
Research Assistant
Stem Cell and Cancer Institute
Jl. Jend. Achmad Yani No.2 Pulo Mas, Jakarta Timur 13210, Indonesia.
www.sci-indonesia. org
Telp. +62-21-47860173; Fax. +62-21-47860180
Official email: hmurti@sci-indonesi a.org or harry.murti@ kalbe.co. id
***


Harry Murti
Research Assistant
Stem Cell and Cancer Institute
Jl. Jend. Achmad Yani No.2 Pulo Mas, Jakarta Timur 13210, Indonesia.
www.sci-indonesia.org
Telp. +62-21-47860173; Fax. +62-21-47860180
Official email: hmurti@… or harry.murti@…


Expand Messages Author Sort by Date
COPY JARINGAN TUBUH
Assalamu’alaikum Wr.Wb Penciptaan Manusia yang bilateral simestris ternyata juga sangat bermanfaat untuk teknologi copy jaringan tubuh. Misal, ketika kaki…
agung budi
agung_biouad
Offline Send Email
Aug 15, 2008
3:07 am

Re: COPY JARINGAN TUBUH
Saya ndak komentar, tapi mau datang kesana dan membuktikan sendiri, tolong siapkan tiket pesawatnya Kotabaru-balik papan-Yogyakarta, akomodasinya sekalian ya,…

Nurcholis, Akhmad
oomkholis
Offline Send Email
Aug 15, 2008
3:12 am

Re: COPY JARINGAN TUBUH
wah hebat tuh, eh apa pondok pesantren itu ada hubungannya dengan DOSEN MIPA UGM yang DI DROP OUT itu, daerahnya ya pajimatan imogiri juga kan…..wah kalau…

bowo nurcahyo
b2nurcahyo
Offline Send Email
Aug 16, 2008
12:20 am

WAYANG KULIT YANG SEREM (was copy jaringan tubuh)
waduh Mas Bowo …. wayangnya serem juga.   Lab Forensik Mas Bowo perlu turun tangan nih, langkah prevention nih supaya ndak ditiru oleh manusia kayak Ryan…

Abdoerrias MohammadNoer
abdoerrias.m…
Offline Send Email
Aug 16, 2008
5:38 am

Re: COPY JARINGAN TUBUH
iki agung jetis yo? piye gung anakmu? jare tambah meneh (jare v3 lo). pindah neng pajimatan to kuliahmu? tak kiro neng unsoed. gung, berhubung belum pada…

Arif Harsoyo
arif_harsoyo
Offline Send Email
Aug 16, 2008
11:40 am

Re: COPY JARINGAN TUBUH
… From: agung budi <agung_biouad@…> Subject: [kabiogama_pusat] COPY JARINGAN TUBUH To: kabiogama_pusat@yahoogroups.com Cc: agung_biouad@… …

Namastra Probosunu
probosunu
Offline Send Email
Aug 15, 2008
4:07 am

Re: COPY JARINGAN TUBUH
Piye Kabare Mas JOE.. Anakku 2.. Tentang Copy Jaringan.. kebetulan pas 2 bulan aku ikut jama’ah di sana ada pasien dari Bandung (Bpk Endang) yang stroke shgg…

agung budi
agung_biouad
Offline Send Email
Aug 23, 2008
4:24 am

Re: COPY JARINGAN TUBUH
Sambungan copy jaringan : DNA double helix dengan pasangan basa A-T atau G-C yang memanjang jika diterjemahkan dalam fisika maka dapat diperoleh bahwa DNA…

agung budi
agung_biouad
Offline Send Email
Aug 23, 2008
9:06 am

Re: COPY JARINGAN TUBUH
Menarik sekali penjelasannya Mas Agung, saya sangat menunggu artikel ilmiah yg memuat penjelasan seperti ini, akan sangat membahagiakan apabila teknologi baru…

harry
harry.murti@…
Send Email
Aug 25, 2008
3:05 am

Re: COPY JARINGAN TUBUH
Terimakasih atas tanggapan Mas Harry.. Sebenarnya siklus gelombang DNA tiap MH berbeda, tetapi frekuensinya bisa sama. Untuk memilah gelombang dengan frekuensi…

agung budi
agung_biouad
Offline Send Email
Aug 26, 2008
5:47 am

Re: COPY JARINGAN TUBUH
Sama-sama, ini mas Agung’98 khan? Kalo boleh urun rembug, saya masih sedikit “confused” dengan istilah “copy jaringan” yg dipakai dalam penjelasan mas Agung…

harry
harry.murti@…
Send Email
Aug 26, 2008
8:09 am

Re: COPY JARINGAN TUBUH
Memang benar agak membingungkan, karena DNA merupakan software tapi sekaligus hardware. Kemarin saya coba menanyakan kepada Pak Hakim (Asisten/santri P. Joko…

agung budi
agung_biouad
Offline Send Email
Aug 27, 2008
3:56 am

Re: COPY JARINGAN TUBUH
“Saya sendiri berharap Mas Harry dapat datang ke Isiteks. Tetapi jangan kecewa dengan bentuk Lab beliau atau rumah terapi milik beliau (P. Joko). Rumahnya…

harry
harry.murti@…
Send Email
Aug 27, 2008
5:46 am

Selamat Berpuasa & Mohon Ma’af
Dear Bapak & Ibu, Perkenankan saya mengucapkan selamat menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan bagi yang melaksanakan selanjutnya Saya secara pribadi dari lubuk hati…

Bambang retnoaji
retnoaji@…
Send Email
Aug 28, 2008
7:21 am

Re: Selamat Berpuasa & Mohon Ma’af
Senada dengan Pak BAmbang nun jauh disana (sukses pak!!), saya sekeluarga juga mengucapkan selamat menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan bagi yang menjalankannya….

rury eprilurahman
rurybiougm
Offline Send Email
Aug 29, 2008
1:23 am

Re: Selamat Berpuasa & Mohon Ma’af
… maturnuwun mas Rury, mohon Do’anya… salam buat semua temen2 Bambang Retnoaji “every mistake you have been made is an investment for the betterment of…

Bambang retnoaji
retnoaji@…
Send Email
Aug 29, 2008
10:53 am

Re: Selamat Berpuasa & Mohon Ma’af
… Temans dan rekans, Saya, atas nama pribadi dan keluarga, juga hendak mengucapken “Selamat Menunaikan Ibadah Puasa” bagi anda yang merayakan dan…

brsidharta
brsidharta@…
Send Email
Aug 29, 2008
6:44 am

Re: Selamat Berpuasa & Mohon Ma’af
Dear all, Dalam segala kerendahan hati ada ketinggian budi, dalam kemiskinan harta tersimpan kekayaan jiwa, dalam lautan khilaf tercipta samudra maaf, Semoga…

sielvia setiyaviana
slea_ppy
Offline Send Email
Aug 29, 2008
10:54 am

Biochip dari Imogiri

Sumber: http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2006/04/24/ILT/mbm.20060424.ILT118902.id.html

NAMA tergeletak lemah. Napasnya naik-turun tak menentu. Sebagian tulangnya remuk tertabrak mobil. Kayu, adiknya, menunggu sambil menciumi sang kakak. Itu terjadi tiga tahun lalu. Kini, kucing itu segar dan sehat. Bulunya tebal.

Sembuhnya Nama adalah kerja Sikla- Estiningsih, 19 tahun, putri ketiga Dr Djoko Sasmita, 51 tahun. Ia mengoba-ti kucing itu dengan menggunakan biochip buatan ayahnya. “Nama kami terapi- dengan biochip yang fungsinya memperbarui organ dalam,” tutur Sikla.

Sikla, gadis yang tak lulus SMP itu, ternyata pintar membuat sederet alat penguji kedokteran. Semua itu dibuat dari chip yang ukurannya cuma se-kuku- telunjuk dan setipis plastik. Di ru-mah-nya- di Imogiri, Bantul, ada alat tes getah bening, tes fungsi hati, tes proton glukosa darah, atau pengetes bakteri TBC. Terakhir, Sikla membuat alat deteksi jantung three in one. Alat itu bisa me-ngetahui listrik jantung, detak jantung, dan lancar-tidaknya aliran darah.

Prinsip kerja biochip bikinan Djoko ini sama dengan chip yang biasa dipakai- di komputer atau kalkulator. Hanya, biochip ini terdiri atas transistor, kapasi-tor, resistor mini yang bahan dasarnya zat organik. Untuk mendeteksi atau meng-obati penyakit, chip itu dipegang atau diletakkan pada bagian tubuh tertentu. Lalu, chip tersebut dialiri gelombang elektromagnetik. Hasil uji itu terpampang di layar monitor berupa grafik, persis seperti alat pemeriksa jantung modern, elektro kardiografi.

Dengan biochip itu, Djoko pernah meng-obati pasien kanker paru, keropos- tulang, dan menormalkan hemoglobin darah untuk penderita talasemia. Ia juga bisa menguji DNA (gen keturunan) tanpa harus mengambil sel tubuh.

Untuk sampai pada keahliannya-, Djo-ko telah melewati perjalanan- panjang-. Ber-awal dari kekecewaannya pada obat-obatan yang mempunyai efek samping, Djoko melakukan penelitian obat-obatan sejak 1973. Saat itu dia menderita kanker kelenjar getah bening-. Penyakitnya itu membuatnya semakin giat meneliti berbagai jenis obat dari ge-lombangnya. Lalu mulailah ia membuat chip organik atau biochip, dan penyakitnya sembuh.

Setamat kuliah, Djoko menjadi dosen di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) UGM. Dia meneruskan risetnya. Secara khusus ia mendalami metode siklus, yang merupakan- metode dasar dari segala gelombang. Dari penelitiannya itu, Djoko menemukan metode Siklus K, yang kemudian dijadikan judul disertasinya. K, menurut Djoko, singkatan dari kaifa (mengapa).

Menurut Djoko, sayangnya di UGM ti-dak ada orang yang bisa menguji ilmu baru itu. Akhirnya, ilmuwan itu mem-presentasi temuannya pada Prof Schauijff di Universitas Uttrech. Pada 1987, dia dikukuhkan sebagai doktor di UGM, tapi kemudian memilih mundur dan mengembangkan ilmunya di rumah bersama anak-anaknya yang juga berhenti bersekolah.

Temuan Djoko itu dinilai dosen MIPA UGM, Prof Dr Utoro Yahya Utoro, adalah, “Temuan yang bisa diterima- secara ilmiah. Dia tidak meng-gunakan mekanika klasik, tetapi menggunakan mekanika kuantum,” katanya. Menurut dia, metode Siklus K karya Djoko terbukti bisa dimanfaatkan untuk membuat alat-alat kedokteran. “Ini kekayaan bangsa kita yang luar biasa. Tapi orang kita kebanyakan luar nege-ri-minded sehingga kurang percaya pada alat sederhana,” kata Utoro.

Pendapat berseberangan datang dari guru besar fisika UGM, Profesor Muslim, PhD. Menurut dia, kalau biochip bisa mendeteksi kesehatan- jan-tung atau darah, dia bi-sa- mengerti. Soalnya, saat ge-lom-bang elektromagnetik diterima darah, misalnya, sel darah akan menghamburkan gelombang itu dan pancarannya ditangkap sensor. Namun, yang ia tak paham adalah bagaimana sekeping kumpulan transistor dan kapasitor organik yang menghasil-kan gelombang elektromagnetik itu bisa menyembuhkan suatu penyakit. Sebab, selama ini gelombang itu justru merusak sel. Sebagai bukti, Muslim menyebut terapi kanker. Untuk membunuh sel kan-ker, dunia kedokteran justru meng-gunakan sinar X atau sinar gamma.

“Kalau (temuan itu) secara ilmiah itu bisa dipertanggungjawabkan, mestinya dia bisa menulis di jurnal-jurnal. Saya kira pengobatan itu sembuhnya karena sugesti,” tuturnya.

Terlepas dari kontroversi ini, toh pasien Djoko masih mengalir ke pavili-un-nya di dekat kompleks makam raja-raja di Imogiri, Bantul. Banyak sarjana, bahkan doktor MIPA, yang juga sembuh setelah berobat. Dan Djoko tetap yakin biochip-nya bisa mengobati banyak hal, termasuk memancungkan hidung, membuat kadar gula tebu meningkat, serta mengubah kulit hitam menjadi putih.

L.N. Idayanie (Yogyakarta)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *