ADAB DI MASJID

      Tak ada komentar pada ADAB DI MASJID

Adab adalah menggunakan sesuatu yang terpuji berupa ucapan dan perbuatan atau yang terkenal dengan sebutan Al-Akhlaq Al-Karimah. Dalam Islam, masalah adab dan akhlak mendapat perhatian serius yang tidak didapatkan pada tatanan manapun. Hal ini dikarenakan syariat Islam adalah kumpulan dari aqidah, ibadah, akhlak, dan muamalah. Ini semua tidak bisa dipisah-pisahkan. Manakala seseorang mengesampingkan salah satu dari perkara tersebut, misalnya akhlak, maka akan terjadi ketimpangan dalam perkara dunia dan akhiratnya.

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Barangsiapa yang ingin Allah membukakan hatinya atau meneranginya, hendaklah ia ber-khalwat (menyendiri), sedikit makan, meninggalkan pergaulan dengan orang-orang bodoh, dan membenci ahli ilmu yang tidak memiliki inshaf (sikap obyektif) dan adab.” (Muqaddimah al-Majmuu’ Syarah Muhadzdzab, I/31)

Ibnu Sirin rahimahullah berkata: “Para salaf mempelajari adab sebagaimana mereka mempelajari ilmu.” (Tadzkiratus Saami’ wal Mutakallim, hlm. 2)

Al-Hasan rahimahullah berkata: “Sesungguhnya seorang laki-laki keluar untuk menuntut ilmu adab baginya selama dua tahun, kemudian dua tahun.” (Ibid)

Habib bin Asy-Syahid rahimahullah berkata kepada anaknya: “Wahai, anakku, pergaulilah para fuqaha’ dan ulama; belajarlah dan ambillah adab dari mereka. Sesungguhnya hal itu lebih aku sukai daripada banyak hadits.” (Ibid)

Seorang salaf berkata kepada anaknya: “Wahai, anakku, engkau mempelajari satu bab tentang adab lebih aku sukai daripada engkau mempelajari tujuh puluh bab dari ilmu.” (Ibid, hlm. 3)

Mukhallad bin al-Husain rahimahullah berkata kepada Ibnul Mubarak rahimahullah: “Kami lebih membutuhkan banyak adab daripada banyak hadits.” (Ibid, hlm. 3)

Dikatakan kepada Imam Asy-Syafi’i rahimahullah: “Bagaimana hasratmu terhadap adab?” Dia menjawab: “Aku mendengar satu huruf dari adab yang belum pernah aku dengar, maka seluruh anggota badanku ingin memiliki pendengaran hingga dapat merasakan kenikmatan mendengarnya.” Dikatakan: “Bagaimana keinginanmu untuk mendapatkannya?” Dia menjawab: “Seperti keinginan seorang wanita yang kehilangan anaknya, sedang ia tidak memiliki anak selainnya.” (Ibid, hlm. 3)

Abu Bakar al-Mithwa’i rahimahullah berkata: “Aku bolak-balik kepada Abu ‘Abdillah (yakni Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah) selama sepuluh tahun. Beliau membacakan kitab al-Musnad kepada anak-anaknya. Aku tidak menulis satu pun hadits darinya. Aku hanya melihat kepada adab dan akhlak beliau.” (Siyar A’laamin Nubalaa’, XI/316).

Adz-Dzahabi rahimahullah menyebutkan: “Bahwasanya majelis Imam Ahmad bin Hanbal dihadiri oleh lima ribu orang. Lima ratus di antaranya mencatat, sedangkan selebihnya mengambil manfaat dari perilaku, akhlak, dan adab beliau.” (Ibid).

Ibnul Mubarak rahimahullah berkata: Aku telah mencoba diriku maka aku tidak mendapatkan baginya sesuatu yang lebih bermanfaat setelah takwa kepada Allah daripada adab dalam setiap kondisinya meski jiwaku tidak suka, selalu lebih baik daripada diamnya dari berbuat bohong atau meng-ghibahi manusia sesungguhnya ghibah telah diharamkan oleh Yang Mahamulia dalam kitab-kitab, aku katakan pada diriku: “Taatlah” dan aku memaksanya kesantunan dan ilmu adalah perhiasan bagi orang yang memiliki kemuliaan seandainya ucapanmu itu dari perak, wahai diri, maka diam adalah dari emas. (Al-Mashdaras-Sabiq, VIII/416)

Ibnul Mubarak rahimahullah juga berkata: “Aku mempelajari adab selama tiga puluh tahun dan aku mempelajari ilmu selama dua puluh tahun. Adalah para salaf mempelajari adab, kemudian mempelajari ilmu.”

Al-Qarafi rahimahullah berkata dalam kitabnya, al-Faruq, ketika menjelaskan kedudukan adab: “Ketahuilah bahwasanya sedikit adab lebih baik daripada banyak amal. Oleh karena itulah, Ruwaiyim -seorang alim yang shalih- berkata kepada anaknya: “Wahai anakku, jadikanlah amalmu ibarat garam dan adabmu ibarat tepung. Yakni, perbanyaklah adab hingga perbandingan banyaknya seperti perbandingan tepung dan garam – dalam suatu adonan. Banyak adab dengan sedikit amal shalih lebih baik daripada banyak amal dengan sedikit adab.”(Al-Faruq, IV/272)

Berkaitan dengan penjelasan di atas, mari kita mulai mengamalkan di tempat biasa kita menghadap Allah dan berkumpul dengan manusia, yaitu di masjid. Berikut adab-adabnya:

  1. Berdo`a di saat pergi ke masjid. Berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu beliau menyebutkan: Adalah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam apabila ia keluar (rumah) pergi shalat (di masjid) berdo`a :

“Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hatiku, dan cahaya pada lisanku, dan jadikanlah cahaya pada pendengaranku dan cahaya pada penglihatanku, dan jadikanlah cahaya dari belakangku, dan cahaya dari depanku, dan jadikanlah cahaya dari atasku dan cahaya dari bawahku. Ya Allah, anugerahilah aku cahaya”. (Muttafaq’alaih).

  1. Berjalan menuju masjid untuk shalat dengan tenang dan khidmat. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda: “Apabila shalat telah diiqamatkan, maka janganlah kamu datang menujunya dengan berlari, tetapi datanglah kepadanya dengan berjalan dan memperhatikan ketenangan. Maka apa (bagian shalat) yang kamu dapati ikutilah dan yang tertinggal sempurnakanlah. (Muttafaq’alaih).

  2. Berdo`a disaat masuk dan keluar masjid. Disunatkan bagi orang yang masuk masjid mendahulukan kaki kanan, kemudian bershalawat kepada Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam lalu mengucapkan:

“(Ya Allah, bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu)”

  1. Dan bila keluar mendahulukan kaki kiri, lalu bershalawat kepada Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam kemudian membaca do`a:

“(Ya Allah, sesungguhnya aku memohon bagian dari karunia-Mu)”. (HR. Muslim).

  1. Disunnatkan melakukan shalat sunnah tahiyatul masjid bila telah masuk masjid. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila seorang di antara kamu masuk masjid hendaklah shalat dua raka`at sebelum duduk”. (Muttafaq alaih).

  2. Dilarang berjual-beli dan mengumumkan barang hilang di dalam masjid. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila kamu melihat orang yang menjual atau membeli sesuatu di dalam masjid, maka doakanlah “Semoga Allah tidak memberi keuntungan bagimu”. Dan apabila kamu melihat orang yang mengumumkan barang hilang, maka do`akanlah “Semoga Allah tidak mengembalikan barangmu yang hilang”. (HR. At-Turmudzi dan dishahihkan oleh Al-Albani).

  3. Dilarang masuk ke masjid bagi orang makan bawang putih, bawang merah atau orang yang badannya berbau tidak sedap. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang memakan bawang putih, bawang merah atau bawang daun, maka jangan sekali-kali mendekat ke masjid kami ini, karena malaikat merasa terganggu dari apa yang dengan-nya manusia terganggu”. (HR. Muslim). Dan termasuk juga rokok dan bau lain yang tidak sedap yang keluar dari badan atau pakaian.

  4. Dilarang keluar dari masjid sesudah adzan. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila tukang adzan telah adzan, maka jangan ada seorangpun yang keluar sebelum shalat”. (HR. Al-Baihaqi dan dishahihkan oleh Al-Albani).

  5. Tidak lewat di depan orang yang sedang shalat, dan disunnatkan bagi orang yang sholat menaroh batas di depannya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Kalau sekiranya orang yang lewat di depan orang yang sedang sholat itu mengetahui dosa perbuatannya, niscaya ia berdiri dari jarak empat puluh itu lebih baik baginya daripada lewat di depannya”. (Muttafaq alaih).

  6. Tidak menjadikan masjid sebagai jalan. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Janganlah kamu menjadikan masjid sebagai jalan, kecuali (sebagai tempat) untuk berzikir dan shalat”. (HR. Ath-Thabrani, dinilai hasan oleh Al-Albani).

  7. Tidak menyaringkan suara di dalam masjid dan tidak mengganggu orang-orang yang sedang shalat. Termasuk perbuatan mengganggu orang shalat adalah membiarkan Handphone anda dalam keadaan aktif di saat shalat.

  8. Hendaknya wanita tidak memakai farfum atau berhias bila akan pergi ke masjid. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu (kaum wanita) ingin shalat di masjid, maka janganlah menyentuh farfum”. (HR. Muslim).

  9. Orang yang junub, wanita haid atau nifas tidak boleh masuk masjid. Allah berfirman: “(Dan jangan pula menghampiri masjid), sedang kamu dalam keadaan junub, kecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi”. (an-Nisa: 43).

`Aisyah Radhiallaahu anha meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda kepadanya: “Ambilkan buat saya kain alas dari masjid”. Aisyah menjawab: Sesungguhnya aku haid? Nabi bersabda: “Sesungguhnya haidmu bukan di tanganmu”. (HR. Muslim).

Masjid dan Adab-adabnya (Tambahan)

  1. Dasar utama mendirikan masjid adalah takwa. (Alquran). * Barangsiapa mendirikan masjid, Allah akan mendirikan baginya bangunan seperti itu di surga. (Muslim).

  2. Maksud dan tujuan masjid didirikan, adalah sebagai: 1> Tempat shalat. (Muslim), 2> Tempat dzikir. (Muslim), 3> Tempat tilawat Alquran. (Muslim), 4> Tempat majelis agama. (Bukhari, Muslim, Tirmidzi), 5> Tempat ta’lim Alquran. (Thabrani, Bazzar), 6> Tempat ta’lim masail. (Thabrani), dan 7> Pusat dakwah Islamiyah. (Bukhari, Muslim, Abu Dawud).

  3. Masjid hendaknya dibangun di tempat yang dekat dengan masyarakat yang mudah dikunjungi. (Ahmad, Abu Dawud).

  4. Masjid hendaknya sederhana, tidak terlalu mewah seperti orang Yahudi dan Nasrani yang memperelok gereja. (Abu Dawud). * Abu Darda ra. berkata, “Jika kamu mengukir-ukir masjid, maka kehancuran akan menimpamu.”

  5. Berlomba-lomba memperindah masjid, mengakibatkan riya dan berbangga diri. Akhirnya jauh dari maksud sebenarnya mendirikan masjid. Sabda Nabi saw., “Akan datang kepada manusia satu masa, dimana mereka akan berbangga-bangga dalam membangun masjid, tetapi mereka tidak meramaikannya, kecuali sebagian kecil saja.” (Syarhus Sunnah).

  6. Jika melihat masjid hendaklah membaca basmallah dan shalawat atas Nabi saw.. (Ahmad, Ibnu Majah).

  7. Masuk masjid hendaknya mendahulukan kaki kanan dengan niat I’tikaf. (Ibnu Nu’aim, Abu Dawud). Lafazh niat I’tikaf, ialah:

“Aku niat beri’tikaf di dalam masjid ini semata-mata karena Allah.”

Caranya: Melepaskan sendal kaki kiri dan diinjak oleh kaki kiri. Kemudian lepaskan sendal kaki kanan dan melangkah masuk. (Imam Nawawi).

  1. Masuk masjid disunnahkan membaca doa:

“Ya Allah, bukakanlah untukku pintu rahmat-Mu.” (Abu Dawud, Nasa’i).

  1. Keluar masjid hendaknya mendahulukan kaki kiri, dengan membaca doa;

Artinya: “Dengan nama Allah, semoga sha-lawat dan salam terlimpahkan kepada Rasulullah. Ya Allah, sesungguhnya aku minta kepadaMu dari karuniaMu. Ya Allah, peliharalah aku dari godaan setan yang terkutuk “ ()

* Caranya: Melangkah keluar dengan kaki kiri dan injak sendal bagian kiri. Kemudian masukkan kaki kanan ke sendal kanan, lalu masukkan kaki kiri ke sendal kiri. (Imam Nawawi).

  1. Sunnah memberi wewangian di masjid. (Nasa’i).

  2. Sunnah shalat dua rakaat Tahiyyatul Masjid ketika masuk masjid sebelum duduk. (Bukhari, Muslim, Tirmidzi). * Kecuali di Masjidil Haram, lebih utama dimulai dengan thawaf untuk menghormatinya.

  3. Jika tidak sempat melakukan shalat Tahiyyatul Masjid, maka bacalah; ‘Subhanallah, walhamdulillah walaa ilahaillallah wallahu akbar’. empat kali.

  4. Di masjid hendaknya hidup empat amalan di dalamnya, yaitu: 1) Dakwah (Bukhari, Muslim), 2) Ta’lim wa ta’alum. (Muslim), 3) Dzikir ibadah, (Muslim), 4) Khidmat.

  5. Selama di masjid hendaknya selalu menutup aurat. (Nasa’i).

  6. Sebaik-baik tempat shalat bagi laki-laki adalah di masjid dan sebaik-baik tempat shalat bagi wanita adalah di dalam rumahnya.

  7. Masyarakat di sekitar masjid hendaknya menghormati tamu-tamu yang berziarah ke masjidnya, karena mereka adalah tamu Allah SWT.. (Abi Syaibah).

Hal-hal Yang Dibolehkan

  1. Boleh mengeluarkan orang yang membawa bau-bauan tidak enak dari masjid (Nasa’i).

  2. Boleh tidur di dalam masjid dengan niat i’tikaf. (Bukhari, Muslim).

  3. Sunnah membuat kemah di dalam masjid untuk beri’’ikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. (Nasa’i).

  4. Boleh menjadikan tempat ibadah umat lain sebagai masjid. Dan boleh membongkar kuburan untuk dijadikan masjid. (Nasa’i). * Maksudnya kuburan dipindahkan ke tempat lain untuk dijadikan masjid.

  5. Boleh tidur, makan, dan minum di masjid asalkan dengan niat i’tikaf. (Nasa’i)

Hal-hal Yang Tidak Dibolehkan

  1. Tidak boleh menjadikan kuburan sebagai masjid. (Nasa’i). * Sebelum dibongkar (dipindahkan), tempat itu tidak boleh dijadikan masjid.

  2. Tidak boleh meludah di dalam masjid. (Nasa’i).

  3. Tidak boleh bersyair dan bernyanyi di dalam masjid. Jika mendengar orang bernyanyi di dalam masjid, dianjurkan berdoa, “Semoga Allah menghancurkan mulutnya.” Tiga kali. (Ibnu Sina, Nasa’i).

  4. Tidak boleh mengadakan jual beli di masjid. Jika melihat orang berjual beli di masjid, hendaknya berdoa, “Semoga Allah merugikan perdagangannya.” (Tirmidzi, Nasa’i).

  5. Tidak boleh mencari barang hilang di dalam masjid. Jika melihat orang mencari barang hilang di dalam masjid, disunnahkan berdoa, “Ya Allah, semoga barangnya tidak ditemukan…” (Muslim, Ibnu Majah).

  6. Tidak boleh membawa senjata terhunus ke dalam masjid. (Thabrani, Nasa’i).

  7. Masjid tidak boleh dijadikan jalan lintasan untuk lewat. (Bukhari, Muslim).

  8. Tidak boleh menyatukan pintu masjid untuk wanita dan laki-laki. Wanita tidak boleh masuk dari pintu laki-laki dan sebaliknya. (Abu Dawud).

  9. Tidak boleh bersuara keras, tertawa, bersenda gurau, berbicara sia-sia dan makruh membawa bau-bauan yang tidak enak, seperti: bau bawang, rokok, jengkol, pete, dan lain-lain, ke masjid. (Bukhari, Muslim). * Termasuk jangan buang angin di dalam masjid. (Muslim).

  10. Tidak boleh memotong dan membersihkan kuku, rambut, mengibaskan kain dengan keras, menyisir rambut dan janggut, atau bersiwak di dalam masjid. Perbuatan itu akan mengotori masjid. Dan jika ada kotoran, disunnahkan mengeluarkannya dari masjid. (Abu Dawud).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *