Syak Wasangka Hapus Sifat Baik Mukmin

SYAK WASANGKA

Suatu ketika seorang perempuan lihat perempuan lain memegang sepatu, karena dalam hatinya sudah tertanam kebencian maka langsung pikiran buruknya menyangka kalau perempuan lain itu baru beli sepatu,”ora nduwe duit kok tuku sepatu!”, begitu kata-kata dengkinya muncul tanpa konfirmasi. Ternyata perempuan lain itu baru mengambil sepatunya yang dipinjam temannya setahun yang lalu dan juga sepatu itu bukan sepatu baru, tapi sepatu yagn dibeli 2 tahun yang lalu, jadi bukan sepatu baru.

Itulah bahanya syak wasangkan, apalagi dibakar oleh kebencian. Hancur kebaikan seorang mukmin! Jangan bergaul dan dekat dengan orang yang berhati hasud dan pendengki, karena hati kalian akan terkena atau kecipratan keburukannya.

Firman Allah SWT:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ “
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan dari sangkaan (supaya kamu tidak menyangka sangkaan yang dilarang) kerana sesungguhnya sebahagian dari sangkaan itu adalah dosa; dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan keaiban orang; dan janganlah setengah kamu mengumpat setengahnya yang lain. Adakah seseorang dari kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati? (Jika demikian keadaan mengumpat) maka sudah tentu kamu jijik kepadanya. (Oleh itu, patuhilah larangan-larangan yang tersebut) dan bertaqwalah kamu kepada Allah; sesungguhnya Allah Penerima taubat, lagi Maha mengasihani.” (Al-Hujuraat ayat 12).
“Jika Allah mengkehendaki kebaikan bagi seseorang hamba-Nya, disegerakan bagi hamba itu balasan ketika di dunia. Sebaliknya jika Allah menghendaki dengan hamba-Nya keburukan, ditangguh pembalasan itu supaya disempurnakannya pada hari kiamat. Sesungguhnya besarnya pahala itu bergantung pada besarnya ujian, sesungguhnya Allah itu apabila dia mengasihi sesuatu kaum dia menguji mereka dengan kesusahan. Sesiapa yang ridho dengan kesusahan itu akan mendapat keredaan Allah dan siapa yang tidak ridhlo maka dia akan menerima kemurkaan Allah.” – Riwayat at-Tirmizi
Apabila hati dan pemikiran sudah dikuasai perasaan syak, akan wujud rasa tidak puas hati atau hendak marah dengan pihak lain boleh jadi ahli keluarga, pasangan kita, rakan dan teman sepejabat. Selalunya apabila fikiran asyik memikirkan perkara negatif, inilah masa sangat disukai syaitan untuk menyucuk dan mengajak kita berfikir lebih jauh atau lebih buruk lagi mengenai orang itu. Pelbagai skrip dimasukkan dalam pemikiran kita supaya perasaan syak wasangka itu terus menghantui diri dan hati, maka ketika itu timbul pula rasa ingin membalas dendam terhadap perbuatan disangkakan dilakukan orang itu.

 Ada kala disebabkan hasutan orang yang bercerita negatif mengenai seseorang menyebabkan kita juga mempunyai prasangka sedangkan kita sebenarnya tidak mengenali hati budi orang itu. Hanya berdasarkan cerita disampaikan, kita terus menaruh wasangka. Alangkah ruginya jika orang yang disangka negatif itu sebenarnya seorang yang baik, tetapi hanya kerana ada yang tidak menyukainya dan melemparkan dakwaan palsu, kita juga terpengaruh. Justeru, coba hindarkan perasaan syak wasangka atau suka berprasangka sebaliknya sentiasa berpandangan positif dan bersangka baik dengan orang lain.
Lebih-lebih lagi sebagai hamba Allah SWT kita perlu bersangka baik dengan Allah SWT kerana Dia Yang Maha Mengetahui. Jangan karena kita diuji dengan kesusahan, kita menyangka Allah SWT tidak menyayangi kita. Prasangka adalah penyakit hati yang bahaya kerana boleh mewujudkan permusuhan, memutuskan silaturahim, menyemarakkan hasad dengki dan memecahbelahkan umat Islam. Oleh karena itu, hendaklah kita menjauhi penyakit syak wasangka ini. Tidak rugi jika kita sentiasa bersangka baik kerana sekurang-kurangnya ia dapat mengelak daripada dijangkiti pelbagai penyakit hati.
Bagaimanapun, perlu juga berhati-hati kerana takut ada yang mengambil kesempatan terhadap sifat baik kita. Orang yang syak wasangka akan tertipu oleh angan-angan. Sampai masanya dia ditimpa kecewa dan sesal tidak berhujung kerana diperlihatkan Allah hal-hal yang selama ini tidak dikiranya. “Akan muncul kelak diakhir zaman, orang-orang yang menyulap dunia dengan agama. Mereka berpakaian bulu domba dihadapan masyarakat. Lidah mereka lebih manis daripada madu, tetapi hati mereka bagaikan serigala.
Menjelang detik-detik ajalnya, Iskandar Yang Agung dari Makedonia berpesan kepada para kaki tangannya. “Kalau maut sudah merenggutku nanti, masukkanlah jenazahku kedalam peti mati yang dilubangi sebelah kanan dan kirinya. Julurkanlah kedua tanganku keluar dari peti mati melalui lubang-lubang itu. Letakkan peti matiku dalam sebuah kereta terbuka. Araklah kereta itu pelan-pelan, agar semua yang melihat peti matiku akan menjadi sadar, bahwa ternyata seorang panglima perkasa yang selalu menang perang dengan harta rampasan begitu banyaknya, pada waktu meninggal dunia tangannya kosong tidak membawa apa-apa. Mudah-mudahan manusia dibelakangku kelak tidak akan sombong dan rakus dengan kesempatan yang dimilikinya.”

Sesuai Persangkaan Hamba pada Allah

Sesuai persangkaan hamba pada Allah. Artinya, jika seorang hamba bertaubat dengan taubatan nashuha (yang tulus), maka Allah akan menerima taubatnya. Jika dia yakin do’anya akan dikabulkan, maka Allah akan mudah mengabulkan. Berbeda jika kondisinya sudah putus asa dan sudah berburuk sangka pada Allah sejak awal.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’alaberfirman,

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى

Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku” (Muttafaqun ‘alaih). Hadits ini mengajarkan bagaimana seorang muslim harus huznuzhon pada Allah dan memiliki sikap roja‘ (harap) pada-Nya.

Mengenai makna hadits di atas, Al Qodhi ‘Iyadh berkata, “Sebagian ulama mengatakan bahwa maknanya adalah Allah akan memberi ampunan jika hamba meminta ampunan. Allah akan menerima taubat jika hamba bertaubat. Allah akan mengabulkan do’a jika hamba meminta. Allah akan beri kecukupan jika hamba meminta kecukupan. Ulama lainnya berkata maknanya adalah berharap pada Allah (roja’) dan meminta ampunannya” (Syarh Muslim, 17: 2).

Inilah bentuk husnuzhon atau berprasangka baik pada Allah yang diajarkan pada seorang muslim. Jabir berkata bahwa ia pernah mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat tiga hari sebelum wafatnya beliau,

لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ

Janganlah salah seorang di antara kalian mati melainkan ia harus berhusnu zhon pada Allah” (HR. Muslim no. 2877).

Husnuzhon pada Allah, itulah yang diajarkan pada kita dalam do’a. Ketika kita berdo’a pada Allah kita harus yakin bahwa do’a kita akan dikabulkan dengan tetap melakukan sebab terkabulnya do’a dan menjauhi berbagai pantangan yang menghalangi terkabulnya do’a.  Karena ingatlah bahwasanya do’a itu begitu ampuh jika seseorang berhusnuzhon pada Allah.

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Ghofir/ Al Mu’min: 60)

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah: 186)

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ

Tidak ada sesuatu yang lebih besar pengaruhnya di sisi Allah Ta’ala selain do’a.” (HR. Tirmidzi no. 3370, Ibnu Majah no. 3829, dan Ahmad 2: 362, hasan)

Jika seseorang berdo’a dalam  keadaan yakin do’anya akan terkabul, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ

Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi no. 3479, hasan)

Jika do’a tak kunjung terkabul, maka yakinlah bahwa ada yang terbaik di balik itu. Dari Abu Sa’id, Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا. قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ اللَّهُ أَكْثَرُ

Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: (1) Allah akan segera mengabulkan do’anya, (2) Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan (3) Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do’a-do’a kalian.” (HR. Ahmad 3: 18, sanad jayyid).

Ibnu Rajab dalam Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam berkata,

فالإلحاحُ بالدعاء بالمغفرة مع رجاء الله تعالى موجبٌ للمغفرة

“Terus meminta dengan do’a dan memohon ampunan Allah disertai rasa penuh harap pada-Nya, adalah jalan mudah mendapatkan maghfiroh (ampunan).”

Maka yakinlah terus pada janji Allah, husnuzhon-lah pada-Nya. Janganlah berprasangka kecuali yang baik pada Allah. Dan jangan putus asa dari rahmat Allah dan teruslah berdo’a serta memohon pada-Nya.

Ya Allah, kabulkanlah dan perkenankanlah setiap do’a kami.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *