Menentukan Arah Kiblat Dengan Teknik Rashdul Kiblat

Penentuan arah kiblat menggunakan jam rashdul kiblat sangat tergantung pada sorot sinar matahari. Jika matahari terhalang mendung pada saat-saat menjelang dan sesudah jam rashdul kiblat maka kita tidak dapat langsung menentukan arah bayangan benda yang mengarah ke kiblat.

Lalu apa solusinya?

Jangan kuatir, masih ada cara/pendekatan lain yang dapat dilakukan selama kita memiliki data jam rashdul kiblat. Langkah-langkahnya sebagai berikut:

  1. Tegakkan sebuah tiang / tongkat sepanjang ± 1 meter di suatu lapangan yang tidak terhalang dari sinar matahari.
  2. Pastikan tiang/tongkat tersebut betul-betul tegak lurus; (gantungkan benang yang diberi pemberat).
  3. Selalu siap menunggu matahari bersinar yang tidak terhalang mendung/awan.
  4. Tunggu tepat jam rashdul kiblat pada tanggal dan tempat tertentu, misal untuk daerah Patemon, Gunungpati, Semarang pada tanggal 22 Agustus 2010, jam rashdul kiblatnya adalah 14:25:45, lalu buatlah garis sepanjang bayang-bayang tiang/tongkat tersebut. Arah bayang-bayang tiang/tongkat tersebut akan mengarah ke kiblat/Ka’bah.  
  5. Jika pada saat-saat menjelang dan sesudah jam rashdul kiblat ternyata matahari terhalang mendung/awan sehingga tiang/tongkat tidak menampakkan bayangan dengan jelas maka tunggulah sampai matahari benar-benar bersinar terang sehingga tiang/tongkat membentuk bayangan yang jelas, lalu buatlah garis sepanjang bayang-bayang tiang/tongkat tersebut. Sebut saja ‘garis bayangan 1’ (Arah bayangan asli). Lihat gambar di bawah.
  6. Tentukan besarnya ‘Azimut’ Matahari pada tanggal tersebut dan jam : menit : detik ketika garis bayangan ditandai/dibuat menggunakan program Stellarium 0.10.3, seperti langkah pada pembicaraan awal penentuan jam rashdul kiblat.
  7. Sebagai contoh, misal garis ‘Arah bayangan asli’ dibuat pada jam 16 : 52 : 57, maka dengan menggunakan Stellarium 0.10.3 akan diperoleh besarnya data ‘Azimut’ Matahari = 283o 21’ 20”.
  8. Ingat, pada tanggal 22 Agustus 2010 dengan jam rashdul kiblat = 14 : 25 :45 harga ‘Azimut’ Matahari adalah 294o 30’ 34” (menggunakan Stellarium 0.10.3), untuk daerah Semarang, khususnya Patemon, Gunungpati, Semarang.
  9. Tentukan selisih ‘Azimut’ Matahari ‘saat jam rashdul kiblat’ dengan ‘saat garis ‘Arah bayangan asli’’. Hasilnya, (294o 30’ 34”) – (283o 21’ 20”) = 1o 9’ 14” = 11,188889o.

10.  Ingat, pada bulan Agustus 2010 ini arah matahari tenggelam lebih bergeser ke arah selatan sehingga arah bayangan benda/tiang/tongkat lebih bergeser ke arah utara.

11.  Ukurlah sudut sebesar 11,188889o dari posisi garis ‘Arah bayangan asli’ ke arah lebih selatan dengan pusat ujung bawah tiang/tongkat yang membentuk bayangan.

12.  Tariklah garis baru dari pusat ujung bawah tiang/tongkat yang membentuk bayangan sehingga membentuk sudut 11,188889o dengan garis ‘Arah bayangan asli’. Garis inilah yang mengarah menuju kiblat, sebut saja ‘garis bayangan 2’ sebagai garis ‘Arah bayangan kiblat’.

13.  Sebaiknya garis arah kiblat tersebut diuji beberapa hari menggunakan metoda yang sama ataupun menggunakan metoda lain sebagai pembanding sehinga didapatkan data arah kiblat yang meyakinkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *